Majas: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Contoh Lengkap

“Majas atau gaya bahasa adalah suatu teknik penyajian bahasa agar karya sastra menjadi hidup.”

Penggunaan gaya bahasa berupa majas sangat efektif digunakan dalam penulisan sebuah karya sastra. Gaya bahasa ini dapat membuat pembaca lebih mudah dalam memahami isi dari suatu karya sastra.

Anda tahu, bahwa sebuah karya sastra akan dianggap gagal ketika isinya sulit dipahami oleh pembaca. Agar dapat lebih memahami majas, mari simak tulisan ini dengan seksama.

Ilustrasi Majas

1. Pengertian Majas

Majas adalah sebuah gaya bahasa yang menggunakan perbandingan, persamaan serta kata-kata kiasan yang imajinatif guna memperjelas penyampaian maksud dan tujuan dalam sebuah karya sastra.

Pengertian majas juga dapat didefinisikan sebagai gaya bahasa yang bertujuan memberikan efek-efek tertentu pada pembaca sehingga sebuah karya sastra menjadi lebih hidup.

Definisi majas menurut Prof. Dr. G. Tarigan adalah cara mengungkapkan pikiran melalui gaya bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian seorang penulis.

Menurut Nurgiyanto (1998) majas merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggaya bahasan yang maknanya tidak merujuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukung melainkan pada makna yang ditambah atau tersirat.

Sedangkan menurut KBBI, majas merupakan cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain atau sebuah kiasan.

2. Tujuan Penggunaan Majas

Secara umum, majas digunakan dengan tujuan untuk memberikan efek-efek tertentu dalam suatu karya sastra sehingga menjadi lebih hidup.

Majas bertujuan untuk menyampaikan pesan secara imajinatif kepada pembaca baik dalam bentuk tulisan maupun lisan yang mewakili pikiran dan perasaan seorang penulis.

Penggunaan majas dalam karya sastra membuat karya sastra menjadi lebih indah karena pemilihan katanya.

3. Jenis dan Contoh Majas Lengkap

Secara umum majas dikelompokkan menjadi empat macam yaitu majas perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan.

Berikut  jenis majas dan beberapa contohnya:

3.1 Majas Perbandingan

Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang dipakai dengan membandingkan objek satu dengan objek lainnya dengan cara penyamaan, penggantian, ataupun pelebihan. Beberapa gaya bahasa yang termasuk dalam majas perbandingan di antaranya:

3.1.1 Metafora

Menurut KBBI metafora merupakan pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Metafora juga dapat diartikan  sebagai gaya bahasa yang memiliki kiasan untuk menggambarkan suatu objek dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama dengan objek pembandingnya.

Metafora menggunakan pembanding langsung tanpa diikuti kata pembanding bagai, seperti, laksana, atau bak.

Sebagai contoh dari majas metafora adalah “Doni membawa buah tangan selepas berlibur di Lombok”. Kata buah tangan memiliki makna sebagai oleh-oleh.

Beberapa contoh lainnya dari majas metafora:

  1. Iko Uwais naik daun setelah menjadi aktor di salah satu film ternama di dunia.
  2. Wanita itu merupakan kembang desa.
  3. Walaupun sudah sukses, Doni selalu rendah hati.

3.1.2 Personifikasi

Person dalam Bahasa Inggris berarti orang. Sehingga personifikasi berarti proses memanusiakan suatu benda mati.

Majas personifikasi merupakan gaya bahasa yang menunjukan benda mati seolah-olah hidup.

Contoh dari personifikasi misalnya, “Awan di Kota Bogor sering menangis”.

Anda tahu, bahwa awan tidak mungkin menangis sehingga awan di sini seperti makhluk hidup. Pada dasarnya makna dari kalimat tersebut adalah Kota Bogor sering dilanda hujan.

3.1.3 Hiperbola

“Cintaku padamu sedalam lautan” ucap sang pria pada pacarnya. Terlalu berlebihan memang, namun itulah contoh dari majas hiperbola.

Gaya bahasa ini menggunakan kata-kata yang dramatis dan cenderung berlebihan. Hiperbola memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi pendengar atau pembacanya.

3.1.4 Asosiasi

Hampir sama dengan metafora, majas asosiasi juga berfungsi membandingkan dua objek namun hakikatnya berbeda.

Gaya bahasa ini ditandai oleh penggunaan kata laksana, bagaikan, bak, seumpama, atau seperti.

Berikut beberapa contoh gaya bahasa yang menggunakan asosiasi.

  1. Mukanya sangar seperti harimau.
  2. Kakak beradik itu bagai pinang dibelah dua.

3.1.5 Eufemisme

Kata eufimisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Ieuphimizein yang berarti “kata-kata yang baik”. Sedangkan menurut istilah majas eufimisme merupakan gaya bahasa jenis perbandingan yang menggantikan satu pengertian dengan kata-kata lain yang memiliki makna yang hampir sama.

Berikut beberapa contoh gaya bahasa eufimisme.

  1. Pria itu seorang tuna netra (tuna netra = Buta).
  2. Lulus SMK, Budi menjadi pramusaji di warung tersebut (pramusaji = pelayan rumah makan).
  3. Kakek Budi telah berpulang ke rahmatullah (berpulang = meninggal).

3.1.6 Simile

Hampir sama dengan asosiasi yang menggunakan kata penghubung laksana, bagaikan, bak, seumpama, atau seperti. Hanya saja, simile bukan membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan menyandingkan sebuah kegiatan dengan ungkapan.

Contoh dari gaya bahasa simile adalah sebagai berikut.

  1. Anak itu menangis bagaikan ayam yang kehilangan induknya.
  2. Kakak beradik selalu bertengkar laksana kucing dan anjing.

3.1.7 Metonimia

Menurut KBBI metonimia adalah gaya bahasa yang berupa pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya.

Majas metonimia merupakan gaya bahasa yang menggunakan mereka dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan sehingga berasosiasi dengan benda keseluruhan.

Misalnya, untuk menyebut kendaraan seperti mobil diganti dengan avanza ataupun motor yang diganti menjadi honda.

Beberapa contoh dari gaya bahasa metonimia adalah sebagai berikut.

  1. Ia ke sekolah diantarkan oleh avanza oleh ayahnya.
  2. Budi berangkat ke sekolah menggunakan honda.

3.1.8 Alegori

Secara etimilogis, alegori berasal dari kata allegorein yang dalam bahasa Yunani Kuno berarti bicara sebaliknya.

Menurut istilah, alegori merupakan gaya bahasa yang menggunakan kiasan untuk menerangkan sesuatu.

Berikut beberapa contoh dari gaya bahasa alegori.

  1. Kekayaan ibarat air laut. Jika dibendung disatu tempat lama-lama tumpah. Jika diminum semakin menghauskan. Tetapi jika dibagikan dalam kotak-kotak dan dijemur maka akan menghasilkan garam.
  2. Hidup ini bagaikan sungai yang mengalir terus ke depan yang kadang-kadang ada penghalang seperti batu ataupun tumpukan sampah.

3.1.9 Sinekdoke

Sinekdoke merupakan gaya bahasa yang menggunakan bagian dari suatu objek untuk menyatakan secara keseluruhan, ataupun sebaliknya. Majas sinekdoke dibagi menjadi dua yaitu:

Pars Pro Toto

Pars pro toto yang menyatakan sebagian kecil sesuatu untuk menyatakan keseluruhan atau mewaliki.

Contoh:

  • Selama tiga hari, Doni tidak kelihatan batang hindungnya.
  • Ratusan hektar hutan berkurang setiap tahunnya.
  • Pulau Dewata menajdi destinasi wisata mancanegara yang ada di Indonesia.

Totem Pro Parte

Totem pro parte merupakan gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari pars pro toto yang mengungkapan keseluruhan dari sesuatu untuk mengaitkan dengan sebagian sesuatu.

Contoh:

  • Institut Pertanian Bogor merupakan kampus impian bagi para pelajar Indonesia.
  • Warga Indonesia sangat menggemari musik K-Pop.
  • Indonesia berhasil menyabet medali emas di kejuaraan bulutangkis Internasional.

3.1.10 Simbolik

Majas simbolik merupakan gaya bahasa yang mengupamakan sesuatu hal dengan yang lainnya yang berupa, benda, tumbuhan, hewan atau simbol-simbol lainnya.

Suatu hal tersebut secara langsung diumpamakan pada maksud tersebut.

Berikut beberapa contoh dari gaya bahasa simbolik.

  1. Tersangka bandar narkoba harus dibawa ke meja hijau (meja hijau = pengadilan).
  2. Perempuan itu memiliki hati putih sekali (putih = bersih/ suci).
  3. Hati Doni sekarang ini sedang mengalami kelabu (kelabu = duka).

3.1.11 Sinestesia

Sinestesia merupakan gaya bahasa yang merupakan suatu kalimat yang mengalami perubahan makna karena pertukaran tanggapan antara dua macam indera yang berbeda.

Contohnya:

  1. Wanita itu berkata sangat pedas.
  2. Pria itu berkata manis kepada semua wanita.
  3. Suara orang itu terdengar busuk.

3.1.12 Alusio

Alusio merupakan gaya bahasa yang menyandingkan suatu hal dengan hal lainnya di masa lampau.

Adapun hal-hal pada masa lampau tersebut antara lain seperti legenda, peristiwa masa lalu, tokoh ikonik ataupun legendaris pada masa lalu.

Beberapa contoh dari majas alusio adalah sebagai berikut:

  1. Pria itu menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan sehingga mengingatkan pada Almarhum Chrisye.
  2. Anak itu durhaka kepada orang tuanya seperti kisah Malin Kundang.
  3. Pria itu sangat kuat seperti Hercules.

3.1.13 Antropomorfisme

Antropomorfisme merupakan gaya bahasa yang membuat hewan atau benda lainnya seolah-olah bisa melakukan perbuatan yang dilakukan oleh manusia.

Contohnya adalah:

  1. Karena lapar, kucing itu sangat memelas kepada majikannya.
  2. Kura-kura dan kelinci melakukan lomba lari pada hari esok.
  3. Jam dinding pun tertawa ketika dirimu sedang berulang tahun.

3.1.14 Antonomasia

Pernahkah kamu dipanggil atau memanggil seseorang dengan sebutan tertentu? Seperti si pesek, si tinggi, si putih, si gemuk, si rajin atau sebutan apapun yang menceritakan diri seseorang.

Hal tersebut merupakan contoh majas antonomasia.

Antonomasia merupakan gaya bahasa yang menyatakan suatu hal dengan menjelaskan karakteristik atau sifat hal tersebut. Majas ini sangat penting digunakan untuk menghindari kesan komunikasi yang monoton.

3.1.15 Aptronim

Aptronim merupakan gaya bahasa yang digunkan untuk menjuluki seseorang dengan sebutan yang melekat pada dirinya. Biasanya berhubungan dengan sifat dan profesi seseorang tersebut.

Adapun beberapa contoh dari aptronim adalah sebagai berikut:

  1. Mas Kumis si tukang bakso telah mangkal disekitar kampus.
  2. Doni si anak emas memiliki IPK 4 di semester akhir.
  3. Agung si raja hutang akhirnya telah melunasi semua hutang-hutangnya.

3.1.16 Hipokorisme

Hipokorisme merupakan gaya bahasa yang mengandung penggunaan timangan atau kata yang menunjukan hubungan karib.

Contoh gaya bahasa hipokorisme adalah:

  1. Si Doni gemar berenang.
  2. Senyumannya terlalu manis, itulah alasanku untuk sangat menyukainya.

3.1.17 Depersonifikasi

Kata depersonifikasi berarti tidak memanusiakan. Hal tersebut kebalikan dari gaya bahasa personifikasi.

Majas depersonifikasi merupakan gaya bahasa  yang membuat manusia memiliki sifat-sifat benda mati atau benda-benda lainnya yang bukan manusia.

Contoh dari depersonifikasi adalah sebagai berikut.

  1. Pria itu tetap diam mematung padahal sudah diintrogasi oleh polisi.
  2. Otaknya membeku ketika ujian akan berlangsung.
  3. Jika engkau menjadi bunga, aku akan menjadi kumbangnya.

3.1.18 Disfemisme

Disfemisme adalah gaya bahasa yang berfungsi memperkasar suatu pernyataan yang bersifat halus.

  1. Doni telah ditendang dari perusahannya seminggu yang lalu.
  2. Ani sudah bukan bininya Galih.
  3. Bocah-bocah itu sangat sulit diatur.

3.1.19 Fabel

Majas fabel merupakan gaya bahasa yang berisikan cerita pendek yang menggambarkan/ mengilustrasikan tumbuh-tumbuhan atau binatang-binatang yang berlaku seperti manusia.

Contohnya: Kijang sangat takut menyebrang sungai karena dipenuhi oleh buaya.

3.1.20 Parabel

Majas parabel merupakan gaya bahasa yang berisikan dengan nilai-nilai kehidupan dan nasihat hidup yang sangat mendalam. Contohnya.

  1. Kisah Malin Kundang menjelaskan bahwa harus menyayangi orang tua dan tidak boleh durhaka.
  2. Hikayat Sri Rama yang berisi kisah yang mengajarkan tentang kesetiaan dan rasa saling percaya.

3.1.21 Perifrasa

Majas perifrasa merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang lebih panjang untuk menggantikan ungkapan sesuatu yang lebih pendek.

Berikut beberapa contoh dari perifrasa:

  1. Budi tinggal di Kota Hujan (Bogor).
  2. Doni menempuh studi di Negeri Paman Sam (Amerika Serikat).

3.2 Majas Pertentangan

Majas pertentangan adalah sebuah gaya bahasa yang menjelaskan maksud tertentu dengan menggunakan pernyataan kalimat yang berlawanan dengan yang sebenarnya.

Berikut beberapa jenis dan contoh yang termasuk majas pertentangan.

3.2.1 Paradoks

Dalam bahasa Yunani, paradoks berarti suatu pendapat yang saling bertentangan. Paradoks mengungkapkan dua hal yang bertentangan namun kedua hal tersebut merupakan suatu kebenaran.

Berikut beberapa contoh yang termasuk gaya bahasa yang mengandung paradoks.

  1. Naiknya nilai dollar sangat berimbas pada turunnya kesejahteraan rakyat Indonesia.
  2. Walaupun di sekolah ramai tapi ia sangat kesepian.
  3. Doni adalah orang yang malas tapi ia sangat rajin shalat ke masjid.

3.2.2 Oksimoron

Majas oksimoron merupakan perluasan dari majas paradoks.

Hal yang membedakan dengan majas paradoks ialah oksimoron pertentangannya menggunakan dalam satu frase yang sama.

Berikut beberapa contoh dari majas oksimoron:

  1. Hidup dan matiku hanya untuk dirimu.
  2. Pertemuan dua sahabat itu diwarnai isak tangis bahagia.
  3. Selalu ada kesempatan dalam kesempitan.

3.2.3 Litotes

Majas litotes bisa dikatakan merupakan kebalikan dari majas hiperbola.

Litotes merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan yang lebih rendah nilainya dibandingkan makna yang sesungguhnya.

Pertentangan dengan makna sebenarnya memberikan kesan dengan maksud merendahkan diri.

Berikut merupakan beberapa contoh yang mengandung majas litotes.

  1. Kami sangat senang jika Bapak bisa mampir ke gubuk kami.
  2. Selamat menikmati sajian yang ala kadarnya ini.
  3. Dari awal saya hanya iseng-iseng mengikuti ajang pencarian bakat ini.

3.2.4 Antitesis

Menurut KBBI, antitesis diartikan sebagai pengungkapan gagasan yang bertentangan dalam susunan kata yang sejajar.

Antitesis adalah gaya bahasa yang memadukan dua kata yang saling berlawanan dalam satu kalimat.

Berikut merupakan beberapa contoh dari majas antitesis.

  1. Naik turunnya harga kebutuhan pokok dipengaruhi oleh harga BBM.
  2. Besar kecilnya dosamu tergantung dari perbuatanmu di dunia.
  3. Bersih kotornya ruangan kelas tergantung siswanya yang menjaga kebersihan.

3.2.5 Kontradiksi Interminus

Majas ini merupakan pengungkapan penyangkalan atas pernyataan yang diucapkan sebelumnya. Berikut beberapa contoh dari gaya bahasa kontradiksi interminus.

  1. Ayah pulang membawa berbagai jenis buah-buahan, kecuali buah apel.
  2. Mahasiswa dilarang izin atau tidak masuk kuliah, kecuali izin kegiatan akademis atau terjadi kemalangan.
  3. Toko itu menerapkan diskon pada seluruh produknya, kecuali produk elektronik.

3.2.6 Anakronisme

Anakronisme berasal dari 2 kata yaitu ana yang berarti mundur dan chromos yang berarti waktu.

Berdasarkan arti katanya, anakronisme berarti gaya bahasa yang digunakan untuk menceritakan sesuatu di masa lampau atau berhubungan dengan sejarah.

Dapat disimpulkan gaya bahasa ini menunjukan pengungkapan akan sesuatu yang tidak sesuai yang hadir pada masa lalu tersebut.

Berikut beberapa contoh yang mengandung majas anakronisme.

  1. Kemenangan pasukan Kerajaan Sriwijaya dirayakan dengan musik dangdut (kala itu belum ada musik dangdut).
  2. Pasukan Majapahit berkendara kuda besi ketika menyerang kerajaan tetangga (zaman dahulu belum ada kendaraan motor ataupun mobil).
  3. Raja Jaya Wijaya membeli keperluan istananya di mall (zaman tersebut belum ada mall).

3.3 Majas Sindiran

Majas sindiran merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan suatu maksud atau pernyataan berupa sindiran kepada sesuatu atau seseorang. Majas sindiran dipakai untuk memperkuat makna pada suatu kalimat.

3.3.1 Sinisme

Majas sinisme merupakan gaya bahasa sindiran yang berisikan kata-kata sinis untuk mencemooh sesuatu atau seseorang yang dianggap buruk/ rendah.

Berikut beberapa contoh dari sinisme.

  1. Teman-temanmu sangat membencimu karena kamu sering bersikap masa bodoh.
  2. Kamu sangat tidak sopan, bersikap tidak sepantasnya kepada orang tua.
  3. Sungguh kinerjamu di organisasi sangat buruk karena sering menghilang dan meninggalkan kewajiban.

3.3.2 Ironi

Majas ironi bisa dibilang gaya bahasa yang paling halus di antara majas sindiran lainnya. Majas ironi berusaha mengungkapkan kata-kata yang bertentangan dengan makna sesungguhnya.

Berikut beberapa contoh majas ironi.

  1. Sepertinya kamu cocok menjadi dokter, tulisanmu benar-benar sulit dibaca oleh orang lain.
  2. Kamu sangat langsing seperti gajah betina.
  3. Ruang kelas ini sangat indah dengan sampah berserakan di mana-mana.

3.3.3 Sarkasme

Majas sarkasme merupakan kebalikan dari ironi. Sarkasme mengungkapkan sindiran secara langsung dengan kata-kata kasar dan keras dengan tujuan menyinggung seseorang.

Isi dari gaya bahasa ini biasanya berupa bentuk penghinaan untuk menunjukan kekesalan dan marah terhadap sesuatu atau seseorang.

Berikut contoh dari majas sarkasme:

  1. Sungguh suaramu sangat jelek jika menyanyi, lebih baik kamu diam saja.
  2. Jangan sombong dan belagu seperti itu! hanya karena mendapat IPK 4.
  3. Jangan sok sibuk! Program kerja tidak belajar karena ulahmu.

3.3.4 Satire

Majas satire merupakan jenis majas sindiran yang hampir sama dengan sarkasme karena mengungkapkan sindiran dengan kasar dan keras, namun yang membedakannya adalah terdapat kata-kata ungkapan pada majas.

Menurut KBBI satire berarti gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang.

Agar lebih memperjelas majas satire, berikut beberapa contoh penggunaan kalimat.

  1. Apa kamu tidak punya rasa terima kasih? Sudah kubantu malah memfitnahku.
  2. Apakah harga gula terlalu mahal? Sampai kopi ini terasa sangat pahit.
  3. Sesibuk apakah kamu? Sampai program kerja organisasi tidak berjalan.

3.3.5 Innuendo

Majas innuendo merupakan gaya bahasa sindiran yang sedikit berbeda dengan jenis majas sindiran lainnya. Innuendo mengungkapkan suatu sindiran dengan cara merendahkan atau memperkecil suatu fakta.

Berikut merupakan contoh dari majas innuendo:

  1. Kamu seperti anak kecil, baru tersandung batu saja langsung menangis.
  2. Percuma kamu seorang lelaki, tingkahmu seperti perempuan karena takut dengan kecoa.
  3. Kamu termasuk orang yang malas jadi anak gadis. Lihatlah kamarmu, bahkan kamar laki-laki saja lebih rapi dari kamarmu.

3.4 Majas Penegasan

Majas penegasan merupakan gaya bahasa yang menyatakan penegasan untuk meningkatkan kesan atau efek terhadap pembaca ataupun pendengar.

3.4.1 Repetisi

Majas repetisi merupakan gaya bahasa pengulangan kata, klausa atau frasa dalam kalimat yang dalam hal ini masih ada kaitannya satu sama lain.

Berikut merupakan contoh dari gaya bahasa repetisi.

  1. Jujur hanya dirimu yang ku sayang, hanya dirimu yang ku rindu, hanya dirimu yang kucinta.
  2. Kemarin tempe, hari ini tempe, besok juga tempe, tempe terus sampai saya bosan.
  3. Tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik ku hanya menunggumu di sini.

3.4.2 Pleonasme

Majas pleonisme merupakan jenis gaya bahasa penegasan yang menambahkan kata-kata yang terkesan berlebihan padahal hal tersebut tidak diperlukan.

Berikut contoh dari majas pleonasme:

  1. Anak itu memanjat ke atas pohon.
  2. Mahasiswa segera masuk ke dalam ruang kuliah setelah jam 8 pagi.
  3. Ayah menepikan mobilnya ke pinggir jalan.

3.4.3 Retorika

Majas retorika berisikan tentang kalimat tanya tetapi tidak perlu di jawab. Hakikatnya retorika berfungsi sebagai sindiran penegasan untuk menggugah kesadaran.

Berikut beberapa contoh retorika:

  1. Siapa yang berkata bahwa doa akan terkabul jika tanpa usaha?
  2. Apakah dengan beramalas-malasan kamu akan mendapatkan masa depan yang cerah?
  3. Mengapa kita harus bertengar dan menjatuhkan satu sama lain? Bukankah kita semuanya saudara?

3.4.4 Klimaks

Majas klimaks merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang sederhana secara bertahap sehingga mencapai kompleksitas. Ciri khas dari majas ini dalam penggunaan kata hierarki secara berturut.

Berikut beberapa contoh dari majas klimaks:

  1. Dari mulai anak-anak, remaja, sampai orang dewasa mengikuti acara bersih-bersih Sungai Ciliwung dengan antusias.
  2. Rapat hari ini dihadiri oleh karyawan, manajer dan direktur utama.
  3. Ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu kendaraan memadati tol jagorawi menjelang hari raya.

3.4.5 Anti klimaks

Berberda dengan majas klimaks, antiklimaks justru mengungkapkan sebaliknya. Majas ini mengungkapkan sesuatu dari yang komplek dan berangsur-angsur turun ke tingkat yang lebih sederhana.

Berikut beberapa contoh dati majas antiklimaks:

  1. Para pemudik sudah mulai memesan tiket dari kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi.
  2. Dari yang kaya hingga yang miskin berlomba-lomba beramal untuk memberikan santunan ke anak yatim.
  3. Acara pentas seni Fakultas Kehutanan, diikuti oleh senior sampai junior mahasiswa kehutanan.

3.4.6 Tautologi

Gaya bahasa tautologi memiliki ciri-ciri mengulang beberapa kali suatu kata dalam sebuah kalimat.

Hal ini bertujuan untuk menegaskan dengan kata-kata yang sudah diterangkan terlebih dahulu sebelumnya dan biasa bersinonim.

Berikut contoh dari tautologi:

  1. Tanpamu hidupku terasa gelap gulita, galau dan gundah.
  2. Tendangan Chistiano Ronaldo begitu hebat, dahsayat dan sangat luar biasa.
  3. Sungguh sunyi, sepi dan hening mala mini tanpa dirimu.

3.4.7 Paralelisme

Majas paralelisme adalah gaya bahasa yang mengungkapkan pengulangan kata dalam satu kalimat yang biasanya terdapat dalam sebuah puisi.

Berikut beberapa contoh dari paralelisme:

  1. Rindu itu berat, rindu tak dapat dihalangi, rindu itu tak dapat dibendung.
  2. Aku melihat, aku mendengar, aku merasakan, aku mencium.
  3. Cinta adalah kesetiaan, cinta adalah kasih sayang, cinta adalah pengorbanan.

3.4.8 Apofasis atau Preterisio

Gaya bahasa ini seolah-olah menyangkal sesuatu namun pada dasarnya berfungsi untuk menegaskan sesuatu.

Berikut beberapa contoh dari majas apofasis:

  1. Anda adalah kaum terdidik yang menjunjung tinggi kesantunan. Sikap tidak sopan Anda di sini telah meresahkan warga sekitar.
  2. Sebenarnya saya tidak ingin mengungkapkan semua ini di forum bahwa Anda sudah korupsi uang organisasi.
  3. Sebenarnya saya sangat ingin mengambil tawaran beasiswa kuliah ke Jepang tersebut, tapi saya tidak meninggalkan ibu saya sendiri di rumah.

3.4.9 Pararima

Majas pararima merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan pengulangan huruf konsonan di awal dan di akhir dalam sebuah kata atau bagian kata yang berlainan.

Berikut ini contoh dari pararima:

  1. Pria itu bolak-balik ke WC.
  2. Pencuri itu mondar-mandir mengawasi situasi.
  3. Para demonstaran itu kocar-kacir setelah ditembakkan gas air mata oleh aparat kepolisian.

3.4.10 Aliterasi

Majas aliterasi merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan pengulangan huruf konsonan pada awal kata minimal sebanyak dua kali.

Berikut disajikan beberapa contoh kalimat yang termasuk gaya bahasa aliterasi:

  1. Darah diriku ada dalam dirimu.
  2. Burung berkicau menyanyi di bawah langit.
  3. Tidur telentang di bawah pohon yang tentram dan tenang.

3.4.11 Sigmatisme

Majas sigmatisme adalah gaya bahasa yang memakai bunyi huruf “s” untuk diulang sehingga menghasilkan efek dan kesan tertentu.

Gaya bahasa ini sering digunakan dalam sebuah sajak puisi.

Berikut merupakan contoh puisi yang mengandung sigmatisme:

  1. Kutulis sepucuk surat disaat gerimis.
  2. Ku mengemis cinta padamu dengan optimis.
  3. Kau meringis di saat aku menangis.

3.3.12 Antanaklasis

Majas antanaklasis adalah ungkapan yang menggunakan pengulangan dua kata yang sama, namun memiliki makna yang berbeda.

Agar dapat memahami antanaklasis berikut disajikan beberapa contoh.

  1. Ayah membawa buah tangan untuk buah hatinya.
  2. Berdasarkan buku-buku yang saya baca, laba-laba memiliki tubuh berbuku-buku.
  3. Ikan tawar itu akhirnya dibeli dari pasar setelah melalui proses tawar menawar yang panjang.

3.3.13 Anastrof atau Inversi

Menurut bahasa, inversi merupakan penggunaan susunan kalian yang tidak biasa. Gaya bahasa ini disebut juga anastrof karena penggunaan gaya bahasa yang tidak biasa.

Lazimnya, sebuah kalimat terdiri dari subjek, predikat dan objek. Maka  dari itu, dalam majas ini predikat bisa mendahului subjek dalam satu kalimat.

Berikut beberapa contoh dari majas anastrof:

  1. Ibu pergi ke pasar dapat diubah menjadi:
  • Ke pasar ibu pergi.
  • Pergi ke pasar ibu.
  1. Malam sudah datang, dapat diubah menjadi:
  • Sudah datang malam.
  1. Kita bertemu kemarin siang, dapat diubah menjadi:
  • Kemarin siang kita bertemu.

3.3.14 Koreksio atau Epanortosis

Majas koreksio adalah sebuah gaya bahasa yang diungkapkan guna mempertegas suatu pernyataan dengan cara membuat pernyataan pertama yang kemudian pernyataan tersebut dikoreksi oleh pernyataan selanjutnya.

Berikut contoh dari majas koreksio:

  1. Ruangan Pak Darma terletak di lantai empat, eh maaf ruangan beliau di lantai enam.
  2. Sepertinya kemeja kotak lebih cocok denganku, oh tidak ternyata kemeja kotak lebih cocok denganku.
  3. Bapak-bapak sekalian silahkan pulang sekarang, oh ralat maksudnya silahkan makan.

3.3.15 Polisindeton

Majas plisindeton merupakan gaya bahasa yang menegaskan sesuatu hal dengan mengungkapkan suatu kalimat yang dihubungkan kata penghubung.

Berikut beberapa contoh polisindeton:

Setelah bangun tidur ia pun mandi, kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

3.3.16 Asindeton

Majas asindeton merupakan gaya bahasa yang menegaskan suatu kalimat tanpa ada kata penghubung.

Contoh:

Dalam kesedihan, kegagalan, keterpurukan aku tetap berusaha untuk melanjutkan perjuangan hingga akhirnya berhasil mendapat gelar sarjana.

3.3.17 Interupsi

Majas interupsi merupakan gaya bahasa yang menyisipkan kata dalam suatu kalimat pokok agar makna dari kalimat sebelumnya jelas.

Contoh:

  1. Budi, teman sekelasku, sedang sakit.
  2. Pak Dana, dosen kuliahku, sedang ada urusan.

3.3.18 Eksklamasio

Majas ini berfungsi sebagai penegasan yang ditandai dengan menggunakan kata-kata seru.

Contohnya seperti berikut:

  1. Wah indah sekali!
  2. Memang kamu yang terbaik!

3.3.19 Enumerasio

Majas ini menjelaskan detail per bagian sehingga keseluruhan dari suatu kondisi ataupun keadaan dapat dipahami pendengar maupun pembaca.

Contoh: Korban meninggal saat itu juga. Mobilnya hancur lebur. Darah menganak sungai. Mengalir ke mana-mana.

3.3.20 Alonim

Penggunaan varian dari nama yang berfungsi sebagai penegasan.

Contoh:

  1. Dok, apakah luka saya akan sembuh dalam waktu dekat? (“Dok” adalah varian untuk dokter)
  2. Bagaimana, dengan usulan topik penelitian kami, Prof?

3.3.21 Kolokasi

Majas kolokasi merupakan majas yang berisikan asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam satu kalimat.

Berikut contoh dari majas kolokasi:

  1. Sangat ajaib ucapanmu, orang-orang pun patuh padamu.
  2. Tatapanmu sadis menusuk membuatku ketakutan.

3.3.22 Silepsis

Majas ini adalah majas yang menggunakan satu kata yang memiliki lebih dari satu makna dan berfungsi lebih dari satu susunan sintaksis.

Contoh: Sirna sudah segala harkat dan harga diri orang itu.

3.3.23 Zeugma

Majas yang memakai kata tidak logis dan tidak gramatis pada susunan sintaksis kedua. Hal tersebut memberikan efek kalimat yang terasa rancu.

Contoh: Perlu saya beritahu, kakek saya itu peramah dan juga pemarah.

3.5 Majas Lainnya

3.5.1 Epizeukis

Majas epizeukis merupakan majas yang digunakan sebagai penekanan terhadap infomasi tertentu dalam suatu kalimat dengan cara pengulangan suatu kata secara berturut-turut tanpa adanya kemunculan kata lain.

Berikut contoh epizeukis:

Uang, uang, uang itulah yang kamu pikirkan.

3.5.2 Tautotes

Majas itu menggunakan pengulangan kata yang berulang-ulang dalam sebuah kontruksi.

Contoh: Kau membohongi dia, dia membohongi kau, kau dan dia tidak ada bedanya.

3.5.3 Anafora

Majas anaphora merupakan majas yang termasuk majas repetisi dengan pengulangan kata, frasa atau klausa pada awal kalimat atau setelah tanda koma dalam suatu kalimat.

Contohnya: Pesonamu mampu mencuri hatiku, pesonamu membuat aku jatuh cinta padamu.

3.5.4 Epistrofora atau Epifora

Gaya bahasa ini melakukan pengulangan kata, frasa atau klausa pada akhir kalimat.

Contoh: Biarkan diriku yang menahan rindu padamu, karena kurasa akulah yang berhak merasakan rindu padamu.

3.5.5 Mesodiplosis

Gaya bahasa ini menggunakan pengulangan kata, frasa atau klausa pada bagian tengah suatu kalimat.

Contoh: Kakiku yang terus melangkah, bibirku yang terus berdoa, semangatku yang terus berkorban, semua ini ku lakukan untuk masa depanku.

3.5.6 Epanalepsis

Gaya bahasa ini memuat pengulangan kata, frasa atau klausa terakhir kalimat pertama menjadi kata, frasa, atau klausa selanjutnya.

Contoh: Di dalam kamarku ada lemari, dalam lemariku ada buku, dalam bukuku ada ilmu.

3.5.7 Asonansi

Gaya bahasa ini melakukan pengulangan suara vokal guna membuat rima internal dalam suatu frasa atau kalimat.

Contohnya: Aku terharu bisa melepas rindu padamu (pengulangan suara vokal “u”).

3.5.8 Kiasmus

Bentuk gaya bahasa perulangan yang isinya mengulang atau repetisi sekaligus merupakan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat.

Contoh: Yang kaya merasa dirinya miskin, sedang yang miskin mengaku dirinya kaya.

3.5.9 Elipsis

Majas elipsis dalam penerapannya menghilangkan salah satu unsur kalimat S-P-O-K yang bertujuan memperindah suatu kalimat.

Contoh: Bambang Pamungkas bermain bersama teman-temannya (objek bola dihilangkan).

3.5.10 Antifrasis

Gaya bahasa ironi yang penggunaannya bermakna sebaliknya.

Contohnya: Lihatlah orang terajin ini sudah datang (ditujukan pada orang yang malas).

4. Tips Penggunaan Majas

Pada hakikatnya penggunaan majas sangat penting digunakan untuk memperindah suatu tulisan ataupun ucapan sehingga pesan yang disampaikan memberikan kesan lebih dan bermakna.

Oleh karena itu, kreativitas penulis sangat diperlukan di sini dalam hal pemilihan majas dan kata.

Berikut tips yang dapat diterapakan dalam penggunaan majas.

  • Tentukan jenis majas yang cocok digunakan dalam karya sastra
  • Pahami situasi dan kondisi yang pas dalam penggunaan majas tertentu
  • Hindari penggunaan majas dengan penggunaan kata yang buruk
  • Gunakan kata-kata yang elegan agar karya sastra menjadi menarik
  • Banyak membaca referensi majas, agar pembendaraan kata menjadi luas

Nah, mungkin itu saja beberapa tips dalam penggunaan majas, semoga tulisan ini merasuk dalam pikiran Anda sehingga semakin mahir dalam bermain majas.

 

Editor:

Mega Dinda Larasati