Cerpen: Pengertian, Fungsi Sastra, dan Jenis

“Cerpen atau cerita pendek adalah karya sastra yang berisi cerita mengenai suatu kejadian dan biasanya jumlah katanya tidak terlalu banyak.”

Karya sastra dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu karya sastra fiktif dan karya sastra non fiktif. Salah satu contoh dari karya sastra fiktif adalah cerpen. Cerpen merupakan kepanjangan dari cerita pendek, dimana panjangnya kata dalam cerita dibatasi. Penulisan cerita pendek lebih padat dan langsung pada tujuannya.

Ingin tahu lebih banyak tentang Cerpen? Yuk simak artikel di bawah ini!

Cerpen

1. Pengertian Cerpen

Cerpen sering ditemui di berbagai media cetak maupun elektronik. Cerpen memiliki beberapa pengertian menurut ahli di bidang sastra. Beberapa ahli memberikan penjelasan mengenai pengertian karya sastra yang satu ini, yaitu:

1.1 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Cerita pendek masuk ke dalam prosa naratif fiktif yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan kisah pendek yang memberikan kesan tunggal dominan yang jumlah katanya kurang dari 10000 kata dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. Menurut KBBI tidak ada cerita pendek hingga mencapai 100 halaman.

1.2 Saini dan Sumardjo

Di dalam buku apresiasi kesusastraan, cerpen merupakan cerita pendek dan mempunyai alur tunggal, sehingga dengan pendeknya alur dan kata pada cerpen orang dapat dengan mudah mengidentifikasinya. Namun, walaupun dengan jumlah kata atau sifat fisiknya yang pendek belum tentu juga orang bisa menetapkan sebagai cerita pendek.

Menurut Sumardjo cerpen adalah cerita pendek dengan membatasi diri yang membahas salah satu unsur fiksi dalam aspek terkecil. Pembatasan aspek masalah merupakan aspek yang digunakan untuk menentukan kependekan dari sebuah cerpen, tidak dari bentuknya yang lebih pendek dari novel.

1.3 Sayuti

Kualitas cerpen ditunjukkan dengan sifat compression yang artinya pemadatan, concentration atau pemusatan, intensity artinya pendalaman. Semuanya berhubungan dengan kualitas struktural dan panjangnya cerita.

1.4 Tarigan

Menurut Tarigan cerpen adalah cerita karangan atau rekaan dengan masalah yang singkat, padat, dan jelas serta terkonsentrasi dalam suatu kejadian.

1.5 Suharianto

Cerita pendek merupakan cerita fiksi berbentuk pendek yang ruang lingkup masalahnya hanya disajikan sebagian kecil saja pada kehidupan tokoh yang dapat menarik perhatian penulis/ pengarang serta memberikan kesan kompleks dan tunggal.

1.6 Kosasih

Cerpen adalah karya sastra yang dikarang dalam bentuk prosa. Cerita pendek menceritakan sepenggal kisah kehidupan tokoh dengan penuh konflik, peristiwa yang menyenangkan dan menyedihkan serta mengandung kesan mendalam yang tidak dapat dilupakan oleh pembacanya.

2. Ciri-Ciri Cerpen

Terdapat ciri-ciri atau karakteristik cerpen yang selalu ada di setiap cerita pendek. Ciri-ciri ini dapat digunakan untuk mengenali dan membedakan apakah karya sastra tersebut termasuk ke dalam kategori cerpen.

2.1 Jalan Cerita

Ciri paling utama pada cerita pendek adalah ceritanya singkat dan pendek sesuai dengan namanya. Cerita pendek harus memiliki jalan cerita dan kata yang lebih pendek daripada novel. Novel memiliki cerita yang lebih detail dan panjang.

Jalan cerita dari cerpen lebih padat dan singkat, sehingga umumnya memiliki panjang kata maksimal 10.000 kata dan maksimal 10 halaman buku.

2.2 Bersifat Fiktif

Isi cerita dari cerpen bersifat fiktif yang artinya tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Cerita yang disuguhkan merupakan buah pikiran dari pengarang. Isi cerita bisa dari imajinasi atau pengalaman dari penulis, namun semuanya bersifat fiktif dan tidak bisa diyakini terjadi di dunia nyata.

2.3 Mempunyai Satu Alur Cerita

Ciri yang khas dari sebuah karya sastra yang satu ini adalah mempunyai satu alur tunggal. Hal ini berarti plot cerita pada cerpen hanya mempunyai 1 alur saja. Karya sastra ini tidak memiliki alur cerita lain atau sub plot. Satu alur tersebut terdiri dari permasalahan cerita dan penyelesaian yang juga dipaparkan di akhir cerita.

2.4 Isi Cerita Sederhana

Secara keseluruhan, isi cerita sederhana dan biasanya menceritakan tentang kehidupan sehari-hari. Cerita digambarkan pada setting yang sangat familiar dengan pembacanya dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari yang dijalani tanpa memasukkan unsur fantasi di dalamnya.

2.5 Dibaca Sekali Duduk

Cerita pendek merupakan karya yang tidak terlalu panjang dan sederhana dapat dibaca dengan cepat. Panjang kata yang kurang dari 10.000 membuat karya sastra yang satu ini dapat dibaca dalam waktu yang singkat. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan dan membaca keseluruhan isi cerita, sehingga dapat selesai dibaca hanya dengan sekali duduk.

2.6 Penokohan

Penokohan dalam cerita sangat sederhana, tidak mendalam, dan singkat. Hal ini yang membedakan dengan novel yang memiliki banyak tokoh dan dibahas secara mendalam. Penokohan dalam novel lebih dijabarkan secara detail. Cerpen tidak menggambarkan kisah seluruh tokoh. Sehingga hanya menceritakan inti sarinya saja. Penokohan hanyalah tokoh utama dalam cerita dan menjadi fokus dari cerita.

2.7 Terdapat Konflik dan Penyelesaian

Hanya terdapat satu konflik beserta dengan penyelesaiannya dalam sebuah cerpen. Masalah atau konflik yang dihadapi oleh tokoh utama menjadi plot dasar yang akan selalu ada pada setiap cerita pendek. Pada bagian akhir akan dijelaskan tahap penyelesaian konflik yang dialami oleh tokoh utama.

2.8 Mempunyai Amanat atau Pesan

Pada cerita akan terkandung sebuah intisari yang dapat berupa pesan yang dapat diambil oleh pembaca. Pesan dalam karya sastra yang satu ini tidak tersurat secara jelas atau hanya tersirat.  Sehingga pembaca dapat mengambil kesan dan hikmah dalam suatu cerpen.

2.9 Meninggalkan Kesan Bagi Pembaca

Ciri-ciri terakhir yaitu memberikan kesan mendalam kepada pembacanya. Kesan yang ditinggalkan kepada pembaca dari cerita sangat mendalam sehingga saat membaca cerita tersebut pembaca dapat ikut merasakan emosi dan kisah yang ada.

3. Struktur

Cerpen memiliki enam elemen penting yang menyusun semua teks cerita pendek sehingga membentuk cerita pendek yang utuh. Cerpen hampir mirip dengan teks anekdot. Enam struktur cerita tersebut antara lain:

3.1 Abstrak

Abstrak dari cerita menggambarkan kisah awal yang akan diceritakan. Abstrak merupakan inti atau ringkasan dari cerpen. Elemen abstrak pada cerpen tidak harus ada atau bersifat optional. Cerita pendek boleh tidak memiliki bagian abstrak pada awal ceritanya.

3.2 Orientasi

Struktur cerpen selanjutnya adalah orientasi yang merupakan bagian dari perkenalan waktu, tempat dan suasana, serta tokoh yang ada dalam cerita. Orientasi dapat menjawab pertanyaan kapan, siapa, dimana, serta bagaimana.

3.3 Komplikasi

Komplikasi merupakan urutan kejadian-kejadian yang dihubungkan dengan berdasarkan sebab akibat. Pada bagian ini pembaca cerita dapat mengenali watak dan karakter tokoh. Biasanya watak dan karakter tokoh terlihat di struktur komplikasi yang menggambarkan plot cerita.

3.4 Evaluasi

Struktur selanjutnya dalam cerita pendek yaitu evaluasi. Evaluasi merupakan konflik yang terjadi pada cerita dan menuju pada klimaks. Klimaks pada konflik cerita menandai bagian evaluasi ini yang juga ditandai oleh konflik yang mulai mendapatkan solusi dan penyelesaian yang menuju tahap akhir.

3.5 Resolusi

Resolusi adalah struktur teks cerita pendek yang mengungkapkan bagian dari solusi masalah yang dialami oleh tokoh dalam karya sastra ini. Pada resolusi, konflik pada cerita telah sampai pada bagian akhir yaitu penyelesaian masalah. Pada bagian ini menandakan bahwa cerita kan segera berakhir.

3.6 Koda

Struktur cerita yang terakhir adalah koda. Bagian ini merupakan pemberian pesan atau pelajaran kepada pembaca cerita. Bagian ini memberikan amanat yang dapat dipetik setelah membaca cerita dari awal hingga akhir. Bagian koda tetap penting karena biasanya pesan dan amanat cerpen hanya tersirat pada bagian inti ceritanya, sehingga banyak pembaca yang mungkin belum dapat memetik pesannya.

4. Unsur-Unsur

Cerpen dibangun oleh dua unsur penting, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

4.1 Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun cerpen yang berasal dari tubuh cerita pendek itu sendiri. Unsur intrinsik jika diibaratkan seperti komponen-komponen dalam sebuah bangunan. Jika salah satu unsur intrinsik hilang, maka bangunan tersebut tidak akan kokoh dan bahkan roboh.

Seperti halnya unsur intrinsik, jika unsur yang ada tidak lengkap maka karya tulis yang dibuat tidak dapat disebut sebagai cerpen.

Terdapat tujuh unsur intrinsik yang terdapat pada cerita pendek yaitu tema, alur cerita, tokoh atau penokohan, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat.

4.1.1 Tema

Unsur intrinsik yang pertama dan utama adalah tema. Tema dalam sebuah cerita pendek bagaikan nyawa atau ruh. Tema merupakan gagasan dasar atau ide yang melatarbelakangi keseluruhan cerita dari awal hingga akhir pada cerita pendek.

Tema bersifat umum dan general yang belum mendetail ke arah isi cerita. Tema dapat diambil dari lingkungan sekitar, kisah pribadi pengarang, pendidikan, perjuangan, sejarah, romansa, permasalahan di masyarakat, persahabatan, dan lain-lain.

4.1.2 Alur Cerita

Alur atau plot cerita merupakan urutan dari jalannya cerita dalam sebuah cerpen yang disampaikan oleh pengarang. Terdapat tahapan alur yang disampaikan oleh pengarang, diantaranya :

  • Tahap perkenalan: mengenalkan tokoh utama dan penokohan, waktu, serta tempat kejadian.
  • Tahap penanjakan: merupakan pengenalan konflik (masalah) yang terjadi
  • Tahap klimaks: tahap puncak masalah/konflik yang terjadi
  • Tahap antiklimaks: mulai menemukan penyelesaian masalah yang terjadi
  • Tahap penyelesaian: masalah dapat terselesaikan dan terdapat pesan yang disampaikan di bagian ini

Tahap yang telah dipaparkan diatas harus selalu ada dalam cerita pendek. Jika salah satu tidak ada, maka cerita pendek yang dibuat dapat membuat pembaca bingung. Terdapat dua macam alur atau plot yang sering digunakan oleh pengarang dalam membuat sebuah cerita, yaitu:

Alur Maju

Alur ini memberikan gambaran tahapan cerita yang urut mulai dari perkenalan, penanjakan, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian. Jalan cerita pada alur maju runtut dan sesuai dengan tahapan cerita.

Alur Mundur

Pada alur ini pengarang memberikan gambaran tahapan cerita yang terbalik atau secara acak. Pengarang dengan sesuka hati menentukan tahapan awal hingga akhir. Pengarang dapat meletakkan tahapan konflik di awal kemudian flashback ke peristiwa yang sebelumnya terjadi. Alur mundur memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menganalisis dan menerka penyelesaian terbaik. Biasanya membaca cerpen dengan alur mundur lebih seru karena pembaca langsung dibuat terkejut dengan adanya konflik di awal tahap.

4.1.3 Tokoh atau Penokohan

Tokoh atau penokohan merupakan bagian yang penting dalam sebuah cerita pendek. Biasanya tokoh atau penokohan harus selalu ada di dalam cerita. Namun, perlu digaris bawahi bahwa tokoh dan penokohan adalah dua hal yang berbeda dalam penulisan cerpen.

Tokoh adalah sebagai subjek atau pelaku yang terlibat dalam cerita yang dibuat. Sedangkan penokohan merupakan penentuan sifat atau watak tokoh di dalam cerita. Sifat atau watak tokoh dapat ditunjukkan secara tersurat atau tersirat yaitu melalui pemikiran, kebiasaan, ucapan, dan pandangan dalam menghadapi suatu masalah.

Terdapat 4 jenis tokoh yang biasanya digambarkan di dalam cerita, yaitu:

Tokoh Antagonis

Biasanya tokoh ini juga merupakan tokoh utama dalam cerita atau pemeran utama yang memiliki sifat dan watak yang buruk (negatif). Watak negatif tersebut seperti sombong, kikir, acuh tak acuh, jahat, iri, angkuh, dengki, dan lain-lain. Tokoh antagonis menjadi lawan dari tokoh protagonis yang merupakan tokoh dengan watak dan karakter yang positif.

Tokoh Protagonis

Tokoh ini lebih banyak menjadi tokoh utama atau pemeran utama dalam cerita. Tokoh protagonis memiliki watak dan sifat yang baik (positif) seperti pandai, jujur, dermawan, penyabar, pemaaf, dan lain-lain. Tokoh ini menjadi lawan tokoh antagonis yang mempunyai sifat jahat (negatif).

Tokoh Tritagonis

Tokoh tritagonis merupakan tokoh tambahan yang bukan merupakan tokoh utama. Tokoh tritagonis biasanya berperan sebagai penengah antara tokoh antagonis dan protagonis. Tokoh tritagonis biasanya juga memiliki sifat yang baik (positif) seperti jiwa kepemimpinan, bijaksana, dan arif.

Tokoh Figuran

Tokoh figuran merupakan tokoh pendukung yang tidak selalu muncul dalam cerita. Namun, adanya tokoh figuran akan memberikan suasana dan warna sendiri dalam cerpen yang dibuat.

Keempat jenis tokoh yang digambarkan akan disampaikan dengan menggunakan dua metode, yaitu :

  • Metode analitik merupakan sebuah metode untuk memaparkan sifat dari keempat jenis tokoh secara langsung. Pengarang akan memaparkan sifat dan menyebutkannya dalam kata secara langsung, seperti keras kepala, pemberani, sombong, baik hati, pemalu, dan lain sebagainya.
  • Metode dramatic merupakan sebuah metode yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan watak dari keempat jenis tokoh secara tersirat. Pengarang memaparkan watak atau sifat tokoh melalui tingkah laku, kebiasaan, perkataan, dan cara percakapan tokoh dalam cerita.

4.1.4 Latar

Setting atau biasanya dikenal dengan latar merupakan kondisi atau suasana kejadian cerita. Latar dapat mengacu pada tempat, waktu, dan suasana. Latar ini berfungsi untuk menunjukkan gambaran konkret dan persepsi kepada pembaca cerita. Latar terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Latar suasana: sedih, bahagia, menakutkan, dan lain-lain.
  • Latar tempat: di sekolah, di sawah, di kampus, di kamar, dan lain-lain.
  • Latar waktu: siang hari, pukul 14:00 WIB, tengah malam, saat tidur, dan lain-lain.

4.1.5 Gaya Bahasa

Gaya bahasa merupakan karakter bahasa yang digunakan oleh penulis. Biasanya gaya bahasa penulis satu dengan yang lainnya berbeda. Gaya bahasa merupakan ciri khas yang digunakan oleh penulis terhadap bahasa karya-karyanya yang disampaikan kepada publik. Gaya bahasa bisa dengan menggunakan majas, pemilihan kalimat, dan diksi di dalam cerpen.

4.1.6 Sudut Pandang

Sudut pandang adalah cara yang digunakan oleh penulis cerpen untuk memberikan cara pandang kepada pembaca terhadap tokoh maupun cerita yang dibuat oleh penulis. Penulis biasanya menggunakan tiga jenis sudut pandang, yaitu:

Sudut Pandang Orang Pertama

Terdiri dari pelaku utama dan sampingan. Pelaku utama memberikan pusat perhatiannya kepada “aku”. Sehingga dalam penulisan tokoh utama biasanya menggunakan kata aku, saya, atau kami (jamak).

Pembaca akan merasa mengalami dan masuk kedalam tokoh cerita. Sedangkan pelaku sampingan perhatian kepada “aku” bukan hadir dalam peran utama, namun sebagai pendukung atau tokoh tambahan.

Sudut Pandang Orang Ketiga

Sudut pandang orang ketiga dibedakan menjadi serbatahu dan pengamat. Pada sudut pandang orang ketiga serba tahu ini penulis mengetahui segala sesuatu tentang tokoh utama. Penulis seakan tahu benar watak, perasaan, pikian, latar belakang, dan kejadian di dalam cerita atau suatu kejadian. Ciri-cirinya pengarang banyak menggunakan kata ganti “dia” untuk menceritakan tokoh.

Pada sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat penulis hanya menceritakan sebatas yang diketahui oleh penulis. Pengetahuan dari penulis didapatkan dari penangkapan pancaindra seperti mendengar, melihat, merasakan, dan mengalami kejadian di dalam cerita.

Sudut Pandang Campuran

Sudut pandang campuran merupakan penggabungan dua sudut pandang oleh penulis, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Terkadang penulis juga masuk kedalam cerita dan juga berada di luar cerita.

4.1.7 Amanat

Unsur ini merupakan nilai yang terkandung (moral value) yang disampaikan oleh penulis secara tersurat maupun tersirat kepada pembaca cerita. Namun, biasanya amanat yang terdapat dalam cerpen tidak dituliskan secara langsung oleh pengarang cerita.

Amanat yang tersampaikan secara tersirat akan tergantung oleh pemahaman dari pembaca cerita pendek.

4.2 Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik merupakan unsur didalam cerpen yang ada diluar karya sastra. Unsur ini mempengaruhi pengarang untuk membuat suatu cerpen secara tidak langsung. Unsur ekstrinsik pada cerpen dibagi menjadi tiga, antara lain:

4.2.1 Latar Belakang Masyarakat

Latar belakang masyarakat yang ada pada penulis merupakan faktor lingkungan yang akan mempengaruhi penulis dalam membuat cerpennya. Faktor ini dapat menggambarkan gaya dan nasal penulis cerpen. Faktor pengaruh ini diantaranya kondisi politik, ideologi negara, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial.

4.2.2 Latar Belakang Penulis

Faktor ini merupakan pengaruh yang ada dalam diri penulis cerpen yang mendorong terciptanya cerpen oleh penulis. Faktor ini terdiri dari riwayat hidup penulis, aliran sastra penulis yang dianut, dan kondisi psikologis penulis.

4.2.3 Nilai yang Terkandung dalam Cerpen

Unsur ekstrinsik juga dapat merupakan nilai yang terkandung di dalam cerpen. Nilai-nilai tersebut diantaranya nilai sosial, nilai agama, nilai budaya, dan nilai moral.

5. Fungsi Sastra dalam Cerpen

Sastra mempunyai fungsinya tersendiri bagi pembacanya. Cerita pendek memiliki berbagai fungsi sastra yang nantinya akan di dapatkan oleh pembaca cerita pendek tersebut. Fungsi sastra dalam karya sastra yang satu ini di antaranya:

5.1 Fungsi Moralitas

Cerpen berfungsi untuk memberikan moral yang baik terhadap pembaca. Sehingga dalam penulisannya cerpen harus mengandung moral yang tinggi. Pembaca diharapkan dapat mengetahui moral yang buruk dan yang baik bagi dirinya.

5.2 Fungsi Rekreatif

Sastra merupakan sebuah hiburan, sehingga cerita pendek yang telah dibaca diharapkan dapat memberi rasa gembira, senang, dan menghibur. Pembaca diharapkan dapat melupakan sejenak kesedihannya dan konflik yang terjadi di dunia nyata. Sebagai fungsi rekreatif cerita pendek dapat menimbulkan tertawa, menangis, maupun tersenyum.

5.3 Fungsi Religiusitas

Cerita pendek dapat memberikan pengetahuan tentang ajaran agama sehingga oleh pembaca dapat digunakan sebagai teladan.

5.4 Fungsi Didaktif

Sastra berupa cerita pendek adalah sebuah pendidikan. Pembaca diharapkan dapat mengambil ilmu-ilmu dan pengetahuan baru. Cerita pendek dapat difungsikan sebagai pengarah untuk mendidik pembacanya karena terdapat nilai kebaikan dan kebenaran didalamnya.

5.5 Fungsi Estetis

Sastra adalah keindahan, sehingga karya sastra berupa cerita pendek harus memiliki keindahannya sendiri. Penulis harus bisa menyajikan cerita pendek yang dapat dinikmati keindahannya oleh pembaca.

6. Kaidah Bahasa

Cerita pendek dapat dikenal dan diketahui berdasarkan bahasa yang digunakan di dalamnya. Cerita pendek memiliki kaidah bahasa tersendiri yang merupakan ciri dari bahasa yang digunakan, di antaranya:

  • Terdapat kata sifat untuk mendeskipsikan tokoh seperti watak tokoh dan penampilan fisik tokoh yang diceritakan di dalam cerpen. Contohnya: tubuhnya tinggi, wajahnya cantik, orang baik, dan lain-lain
  • Terdapat kata keterangan yang digunakan untuk mendeskripsikan latar suasana, latar tempat, dan latar waktu yang terdapat pada cerita pendek. Contoh: di siang yang terik, di dalam hutan rimba, ke hutan mencekam, dan lain-lain.
  • Cerita pendek menggunakan kalimat yang singkat dan padat.
  • Menggunakan kalimat tidak langsung dan kalimat langsung dalam menulis cerpen dan pada saat percakapan.
  • Gaya bahasa yang digunakan dapat berupa konotasi atau bukan maksud yang sebenarnya. Contohnya: kutu buku, pucuk langit, bajing loncat, dan lain-lain.
  • Cerita pendek dapat menggunakan bahasa yang tidak formal maupun tidak baku
  • Biasanya menggunakan majas dan diksi

7. Jenis Cerpen

Jenis cerpen dapat dibedakan melalui banyaknya kata (jumlah kata)  dan berdasarkan teknik mengarangnya.

Berdasarkan jumlah kata cerita pendek dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

  • Cerpen mini (flash): cerpen ini sangat singkat dan padat yang memuat jumlah kata antara 750 kata hingga 1000 kata.
  • Cerpen ideal: cerpen yang terdiri dari jumlah kata antara 3000 sampai dengan 4000 kata.
  • Cerpen panjang: cerpen yang memuat jumlah kata sebanyak 10.000 kata dan merupakan jenis terpanjang.

Sedangkan berdasarkan teknik mengarangnya cerpen dapat dibagi menjadi dua, di antaranya :

Cerpen Sempurna (Well Made Short Story/ Perfect)

Cerita pendek ini terfokus pada satu tema saja dengan alur yang jelas dan memiliki bagian penyelesaian (ending) yang jelas dan mudah dipahami. Cerita pendek ini biasanya didasarkan pada realitas atau fakta dan bersifat konvensional.Cerita pendek ini banyak digemari oleh orang awam yang baru suka membaca dn remaja karena bahasanya mudah dipahami dan enak dibaca. Rata-rata pembaca dapat membaca cerpen jenis ini dengan tempo yang singkat.

Cerpen Tak Utuh (Slice of Life Short Story)

Cerpen ini tidak terfokus pada satu tema saja melainkan dapat terpencar-pencar dengan tema yang lain. Terdapat beberapa plot yang tidak terstruktur dan dibuat mengambang serta pembahasan yang tidak tuntas. Cerita pendek ini mempunyai sifat yang orisinal yaitu ditulis berdasarkan ide penulis asli, serta bersifat kontemporer.Cerpen ini lazim disebut sebagai cerita pendek ide atau gagasan. Cerpen ini sangat sulit untuk dipahami oleh pembaca awam sastra dan harus dibaca berulang-ulang untuk memahaminya. Sehingga dalam membaca cerpen ini diperlukan waktu yang agak lama.

Demikian penjelasan tentang cerita pendek secara ringkas dan lengkap sehingga dapat membantu untuk mengenal jenis-jenis cerpen yang merupakan karya sastra berbentuk prosa yang memiliki unsur-unsur dan struktur di dalamnya.

 

Editor:

Mega Dinda Larasati