Biografi Rocky Gerung, Sang Profesor Akal Sehat

2. Pendidikan

Kisah hidup Rocky Gerung memang unik, perjalanan pendidikan yang ia tempuh jika digambarkan akan membentuk zig–zag seperti yang ia pernah katakan sebelumnya. Sebenarnya ia tidak ingin orang–orang memanggilnya dengan sebutan Prof, karena sebenarnya ia tidak pernah sekolah sampai S2 dan S3. Namun, orang–orang memang tidak tahu makna sebenarnya Prof itu apa. Bahkan tidak hanya muridnya yang memanggil seperti itu, rekan–rekan pengajarnya pun sering dan kebanyakan memanggil ia dengan sebutan Prof.

Sempat pindah beberapa jurusan dan kampus saat kuliah. Pertama kali ia masuk Fakultas Teknik mengambil jurusan Hubungan Internasional (FISIP UI), lalu pindah dan diterima di Ekonomi UI, pindah lagi dan masuk Fakultas Hukum UI. Sampai pada akhirnya ia menyelesaikan kuliahnya di jurusan Ilmu Filsafat.

Ternyata alasan ia berpindah–pindah jurusan saat kuliah adalah ia hanya ingin mencari ilmu yang memang ia tidak tahu. Ketika merasa ia tahu maka ia memilih untuk meninggalkan dunia perkuliahannya karena beberapa ilmu dianggapnya bisa ia pelajari sendiri. Namun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Ilmu Filsafat pada tahun 1986 karena memang ilmu tersebut menantang baginya. Ia beranggapan bahwa ilmu filsafat itu rumit dan harus sabar dalam mempelajarinya.

Beberapa orang beranggapan bahwa filsafat itu adalah ilmu yang menyesatkan, ia pun mengakui bahwa ilmu filsafat menyesatkan namun menyesatkan di jalan yang benar. Pandangan radikal selalu datang dari pikiran yang filosofis sehingga filsafat mengajarkan cara membongkar dasar pemikiran tersebut. Hal tersebutlah yang membuat ilmu filsafat menarik bagi seorang Rocky Gerung.

Semua orang menganggap bahwa ijazah itu penting dan harus dimiliki setiap orang, padahal ijazah itu ditentukan oleh negara karena kebutuhan kita untuk bekerja. Tetapi ia berpikir, jika kita ingin sekolah dan membuka pekerjaan untuk apa kita mempunyai ijazah, malah harusnya kita yang menagih ijazah orang lain. Ijazah itu tanda orang pernah bersekolah bukan tanda orang pernah berpikir. Itulah alasannya tidak pernah mengambil ijazah sekolah, bahkan ia tidak pernah wisuda saat lulus perguruan tinggi.

Sebenarnya ia sempat ditawari S2 di luar negeri oleh dosen, lembaga, sponsor tetapi ia menolaknya. Ia hanya akan pergi jika memang ia sangat membutuhkan hal tersebut. Jika hanya ditawari ia tidak ingin menerimanya. Namun, sempat pergi untuk semester pendek di beberapa universitas luar negeri semata–mata hanya kenikmatan dan ingin tahu sendiri saja ucapnya. Jika dianalogikan, ia sudah merasa kenyang jadi untuk apa makan lagi paling hanya ingin cemilan-cemilan saja.

Begitu juga dengan sekolahnya sekarang, ia merasa tidak perlu untuk sekolah lagi karena jika ingin tahu lebih maka belajar saja tapi tidak perlu terikat dengan sekolahnya.