Biografi Joko Widodo, Presiden Pembangun Indonesia

5. Perjalanan Karier Politik Joko Widodo

Pada tahun 2005, Jokowi memulai kehidupannya untuk terjun di dunia politik. Ia mencalonkan diri menjadi walikota Solo di bawah payung Partai Kebangkitan Bangsa dan PDI Perjuangan. Kenekatan yang ada pada dirinya untuk menjadi walikota padahal tidak mempunyai ilmu politik yang cukup membuatnya berhasil menjadi pemenang dalam kontestasi pilkada. Kemenangan ini menjadikannya sebagai Walikota Solo.

Hal ini juga sebagai batu loncatan beliau menuju kursi Presiden Indonesia. Warga Solo sangat menyukai gaya kepemimpinannya. Mereka menyebutnya “blusukan” yaitu turun langsung ke lapang untuk melihat keadaan yang sebenarnya terjadi.

Ini membuat kota Solo menjadi banyak perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Misalnya kota Solo menjadi kota yang nyaman untuk disinggahi pengunjung dengan peremajaan kawasan Jalan Slamet Riyadi, merelokasikan pedagang tanpa menimbulkan konflik.

Jokowi juga melakukan pengembangan ekonomi, pelayanan kesehatan dan pendidikan, pengoperasian Batik Solo Trans (BST) hingga rebranding Kota Solo sebagai “The Spirit of Java”.

Kinerja yang baik selama kepemimpinannya ini membawa ia kembali menjadi Walikota Solo dan memenangkan pilkada di tahun 2010. Ia pun menjabat selama 2 periode.

Jokowi berhasil mencetak sejarah dalam dunia pilkada yaitu mendapatkan 90,09% suara. Angka yang cukup mengagetkan karena hampir mendekati 100%. Kesederhanaan dan prestasinya yang luar biasa membuatnya dikenal rakyat banyak.

Keberhasilan dan kesuksesan Jokowi dalam memimpin tersorot oleh media–media nasional. Tidak hanya tentang kinerja, Jokowi disukai masyarakat karena kepribadiannya terutama dalam kejujuran, kesantunan, kesederhanaan, dan tidak malu untuk turun langsung ke lapang.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta beliau untuk maju ke kursi Gubernur DKI Jakarta. Jusuf Kalla melihat keberhasilannya dalam memimpin kota Solo yang ia harapkan Jokowi bisa memperbaiki tata kota di ibu kota Indonesia ini agar menjadi lebih baik. Namun tawaran ini tidak berjalan mulus. Jokowi sempat menolak.

Ia akhirnya menerima ajakan untuk bergabung dengan partai politik dibawah pimpinan Megawati Soekarno Putri yaitu PDI Perjuangan. Kala itu Jokowi sudah berhasil menduduki posisi sebagai wakil ketua di salah satu bidang PDIP, Jawa Tengah. Nama Jokowi kemudian tidak asing lagi dalam dunia politik.

Jokowi maju dalam pencalonan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau kerap dikenal sebagai Ahok. Tagline yang digunakan dalam kampanye mereka adalah “The Power of Kotak – Kotak”. Setiap kampanye mereka selalu mengenakan baju kotak–kotak.

Pada pilkada putaran pertama, mereka tidak menang. Pada pilkada putaran kedua, pasangan ini berhasil memenangkan kursi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012. Saat itu Jokowi berhasil menduduki sebagai orang pertama di Ibu Kota Jakarta.

Di dalam masa kepemimpinannya kurang lebih 2 tahun, Jokowi mengeluarkan kebijakan–kebijakan yang sangat menguntungkan untuk rakyat. Misalnya adalah Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Sehat, dan Pembangunan Kampung Deret.

Pada pertengahan masa pemerintahannya sebagai Gubernur DKI Jakarta sekitar 3 tahun lagi masa sisa jabatannya, Megawati Soekarno Putri menulis surat mandat kepada Jokowi untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Akhirnya Jokowi memberanikan diri untuk maju sebagai Presiden bersama Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden pada tahun 2014. Lagi, kepemimpinan seorang “tukang kayu” ini kembali diuji.

Ada pula kalimat bijak yang sangat mendukung beliau untuk ambil andil dalam pilpres ini, yaitu “mutiara tak cukup dikeluarkan dari dalam cangkang dasar laut lalu ke permukaan”. Ini menggambarkan bahwa Jokowi dapat memberi manfaat luas. Kemenangan kembali berpihak kepada Jokowi seakan rakyat Indonesia sudah mempercayainya dalam memimpin negara ini.

Jokowi berhasil memenangkan hati rakyat Indonesia dengan hasil perhitungan suara sekitar 53,15% atau sekitar 70.997.833 jiwa penduduk Indonesia. Rakyat Indonesia menyukai gaya kepemimpinannya yang merakyat. Sedangkan lawan Jokowi dalam pemilu ini adalah pasangan Prabowo–Hatta mendapat suara 46.85%.

Pelantikan resmi presiden Indonesia dilakukan pada tanggan 20 Oktober 2014. Di dalam masa jabatannya selama 5 tahun ini, Indonesia mengalami perubahan yang cukup baik dari sebelumnya.

Jokowi mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri sebagai presiden 2019 pada tahun 2018. Wakil Presiden pada saat itu, Jusuf Kalla tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan lagi karena batasan masa jabatan.

Pada 9 Agustus 2018, beliau mengumumkan bahwa yang akan menjadi wakilnya adalah Ma’ruf Amin. Ia memilih Ma’ruf Amin karena pengetahuan dan pengalaman yang luas dalam urusan pemerintahan dan agama. Lawan pasangan ini adalah Prabowo–Sandi. Keberuntungan berpihak lagi kepada Jokowi. Ia terpilih sebagai Presiden RI periode 2019-2024. Pemilihan presiden (pilpres) tahun ini begitu terasa euforianya dikarenakan kedua calon memiliki kelebihan masing–masing.