Biografi Ahmad Fuadi, Penulis Buku Negeri 5 Menara

Siapa yang belum kenal dengan Ahmad Fuadi? Mungkin bagi kalian yang bukan penyuka novel akan terasa asing dengan nama tersebut. Namun apakah kalian pernah menonton film “Negeri 5 Menara”?

Ya, Ahmad Fuadi adalah penulis dari novel yang mempunyai judul yang sama dengan film tersebut.

Sudah ingat?

Mari kita kenal lebih dekat dengan beliau yang mempunyai kisah menarik ini.

Biografi Ahmad Fuadi Penulis Buku Negeri 5 Menara

Nama Lengkap (Beserta Gelar) Ahmad Fuadi
Kebangsaan Indonesia
Tempat Lahir Bayur Maninjau, Sumatera Barat
Tanggal Lahir 30 Desember 1973
Pendidikan Terakhir Royal Holloway, University of London
Profesi Utama Penulis
Prestasi/ Pencapaian

Direktur Komunikasi The Natural of Conservacy 2007 – 2009

Peraih Longlist Khatulistiwa Literay Award 2010

Novelis Fiksi Terfavorit pada Anugerah Pembaca Indonesia 2010

Novelis Fiksi Terbaik pada Pepustakaan Nasional Indonesia 2011

Kategori Pendidikan dan Motivasi pada Liputan6 Award, SCTV 2011

1. Profil Singkat Ahmad Fuadi

Ahmad Fuadi merupakan seorang novelis yang berasal dari darah Minang, Sumatera Barat. Ia lahir di Sumatera Barat, Bayur Maninjau pada 30 Desember 1972. Novelis ini berhasil memikat hati pembaca dengan novel yang berjudul “Negeri 5 Menara”.

Meskipun tergolong novel yang baru tebit, novel ini masuk ke dalam deretan best seller tahun 2009. Novel tersebut merupakan novel pertamanya dan diangkat menjadi film pada tahun 2012.

Film dengan judul “Negeri 5 Menara” yang sama persis seperti novelnya mampu menjadi salah satu film yang memiliki jumlah penonton banyak pada masanya. Ia juga seorang novelis berprestasi karena telah mendapatkan beberapa penghargaan.

Selain sebagai penulis atau novelis, beliau juga merupakan seorang aktivis sosial dalam bidang konservasi dan wartawan. Kemampuan yang ia miliki bukanlah berasal dari kedua orang tuanya. Orang tuanya berprofesi sebagai guru di sekolah. Ayahnya merupakan seorang guru sekolah Madrasah sedangkan ibunya merupakan seorang guru Sekolah Dasar (SD).

Kisah asmaranya bermuara pada seorang yang memiliki nama Danya Yayi Dewanti. Kepiawaian Ahmad Fuadi dalam meracik sebuah novel dipengaruhi oleh istrinya. Sang Istri mendukungnya dalam karir untuk menjadi penulis ini. Istrinya menyukai novel dan memiliki ketertarikan khusus dalam dunia novel. Sehingga peran Sang Istri sangat berpengaruh dalam menyukseskan novel pertamanya di pasar.

2. Pendidikan

Ahmad Fuadi menghabiskan masa kecilnya di Bayur. Ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bayur. Kemudian ia melanjutkan pendidikanya ke Pulau Jawa. Ia merantau ke pulau sebrang dalam memenuhi permintaan ibunya untuk melanjutkan sekolah agama. Ia bersekolah agama di suatu Pesantren Gontor, Jawa Timur pada tahun 1988.

Tak hanya agama yang ia pelajari, ilmu pengetahuan dasar dan akhlak juga dipelajari seperti tentang keikhlasan, kehidupan, dan akhirat oleh ustaz-ustaz yang ada di sana. Di pondok, banyak sekali yang dapat ia ambil mulai dari pesan dan nasihat ustaznya seperti “man jadda wajadda” yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan menemui kesuksesan. Lalu kalimat yang paling ia ingat dari belajar di pondok ialah “orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling banyak manfaat”.

Salah satu pesan yang disampaikan oleh gurunya semasa di pesantren tersebut menjadi prinsip yang selalu dipegang olehnya. Ia menyelesaikan studi pesantren pada tahun 1992. Menghabiskan waktu 4 tahun di Pondok Pesantren Gondor menjadi tahap yang penting dalam perjalanan akademisnya. Ia terbiasa mendengarkan siaran radio yang berbahasa Arab dan Bahasa Inggris. Hal tersebut yang mendukungnya untuk bisa pergi ke luar negeri.

Setelah menyelesaikan studi di Pondok Pesantren Gontor, ia melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di Universitas Padjajaran jurusan Hubungan Internasional (HI), Bandung. Ketika mendekati masa akhir kuliah, ia sempat mengikuti program student gathering ASEAN. Program ini merupakan program sarjana yang dapat membawa mahasiswa ASEAN menjalani perkuliahan di University of Singapore.

Fuadi pernah mengikuti program Youth Exchange yang dilaksanakan di Quebec, Kanada 1995 – 1996 mewakili Indonesia.

3. Perjalanan Karier

Beliau bekerja sebagai wartawan di majalah Tempo setelah lulus dari Hubungan Internasional, Universitas Padjajaran. Di majalah Tempo, ia mendapatkan training dan pendidikan untuk menjadi seorang wartawan professional di tahun 1998. Selama setahun ia di sana, ia menjadi koresponden internasional mewakili Majalah Tempo yang ditugaskan di Washington DC, Amerika Serikat.

Tahun 1999, ia mendapat beasiswa Full-bright sekolah pasca sarjana (S2) di School of Media and Public Affairs, George Washington University, Amerika Serikat. Di sana ia menjadi Asisten Penelitian School of Media and Public Affairs dan Center for Media and Public Affairs.

Ia bersama sang istri meninggalkan Indonesia dan menjadi perantau di negeri orang. Mereka pernah menjadi reporter dan melaporkan secara langsung di lokasi kejadian berita bersejarah pada 11 September 2001 dari Pentangon, White House, dan Capitol Hill.

Keberuntungan sepertinya selalu berpihak kepada Fuadi. Ia mendapatkan beasiswa Chevening untuk berkuliah di Royal Holloway, University of London, Inggris. Bidang yang ia tekuni ialah film dokumenter.

Ia juga menjadi wartawan Voice of America (VOA) Jakarta hingga 2005 dan Direktur Komunikasi The Nature Conservancy hingga 2009.

4. Penghargaan dan Beasiswa

Setahun selanjutnya setelah menerbitkan novel Negeri 5 Menara, ia mendapatkan penghargaan Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dan masuk dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award.

Kemudian setelah novel tersebut diangkat menjadi film, salah satu penerbit dari negeri Jiran, PTS Lirera menerbitkan novelnya dalam Bahasa Melayu. Hasil karyanya membawa ia meraih beberapa penghargaan

 Misalnya, ia dinobatkan sebagai Penulis dan Fiksi Terfavorit (2010), Penulis Buku Fiksi Terbaik dari Perpustakaan Nasional Indonesia (2011), Liputan6 Award SCTV dalam Kategori Pendidikan dan Motivasi (2012).

Selain penghargaan ia juga meraih beberapa beasiswa bergengsi seperti:

  • SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore (1997)
  • Indonesian Cultural Foundation Inc Award (2000 – 2001)
  • Columbian College of Arts and Sciences Award, The George Washington University (2000 – 2001)
  • CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park (2002)
  • Beasiswa Fullbright Pascasarjana, University of London (2004 – 2005)
  • Longlist Khatulistiwa Literary Award (2010)

5. Karya Ahmad Fuadi

Selain penulis, ia juga menyukai fotografi. Ia menerbitkan buku trilogi dengan bagian pertama terbit pada tahun 2009 dengan judul Negeri 5 Menara. Novel ini sempat menjadi trending di jajaran best seller di tahunnya. Bahkan novel ini diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Novel kedua yaitu lanjutan trilogy berjudul Ranah 3 Warna yang diterbitkan pada 23 Januari 2011. Novel terakhir berjudul Rantau 1 Muara pada Mei 2013 yang diluncurkan di Washington DC.

Selain aktif sebagai penulis, Fuadi juga aktif dalam Komunitas Menara. Komunitas Menara merupakan yayasan sosial untuk membantu pendidikan yang dikhususkan kepada masyarakat yang kurang mampu.

Saat ini yayasannya sudah mempunyai sekolah gratis untuk anak usia dini yang tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan. Selain menulis buku trilogi, ia juga menulis buku Man Jadda Wajadda Series, Dari Datuk ke Sakura Emas, Beasiswa 5 Benua, dan Anak Rantau. Ia juga menghasilkan lebih dari 300 artikel.

6. Pengalaman Profesional

Fuadi sangat berpengalaman dalam hal menulis. Ia telah menulis kurang lebih 300 artikel mengenai peristiwa terkini untuk media massa di Indonesia. Ia berperan sebagai penulis bebas tahun 1992 – 1998. Seperti diceritakan diatas, ia pernah menjadi seorang wartawan di Quebec, Canada pada tahun 1995.

Ia juga pernah menjadi bagian dari wartawan Majalah TEMPO di Jakarta, Indonesia pada tahun 1998 – 2002. Juga pernah menjadi wartawan di VOA (Voice of America) di Washington DC pada tahun 2001 – 2002.

Selain sangat berpengalaman di bidang wartawan, ia bergelut pula di dunia media komunikasi. Di School of Media and Public Affairs, Washington DC, Fuadi menjadi seorang asisten penelitian. Ia sempat bekerja di Pemanasan Global dan Budaya Pop Projecy. Berkat pengalaman tersebut, ia diangkat menjadi direktur komunikasi TNC (The Nature Conservacy) pada 2007 – 2009.

Fuadi menguasai berbagai Bahasa di dunia yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, dan Bahasa Arab.

7. Pengalaman Mengajar

Di samping ia memiliki banyak penghargaan dan pengalaman professional, ia juga memiliki beberapa pengalaman mengajar. Di antaranya pada tahun 2006 – 2007, ia mendapat kunjungan dari Staf Lembaga Bantuan dari 8 provinsi di Indonesia dan menjadi trainer, humas, publikasi, penulis dan fotografi USAID – LGSP.

Selain itu ia juga mendapat kunjungan oleh jurnalis TV atau produsen dari 14 stasiun TV di Indonesia pada September 2005 dan diminta untuk menyampaikan materi mengenai trainer, workshop produksi TV dan International Broadcasting Bureau – VOA. Ia meraih sertifikat trainer DDI untuk pengembangan organisasi.

Tak hanya di Indonesia, di luar negeri pun ia pernah menjadi pembicara (speaker)/ fasilitator seperti Kanada, Malaysia dan Amerika Serikat. Ia juga mengajar anak sekolah di berbagai tempat seperti Virginia, AS, PM Gontor, Bandung, dll.

8. Tips Menulis dari Ahmad Fuadi

Menurut Ahmad Fuadi, menulis itu mempunyai berbagai alasan. Ada orang yang menulis untuk memberi informasi. Ada juga yang menulis untuk menghibur. Ada juga menulis untuk mengekspresikan apa yang dirasakan. Di balik berbagai alasan tersebut, menulis tetaplah untuk menebar kebaikan.

Hal penting yang selalu ia yakini dari menulis adalah bahwa kata–kata lebih ampuh dari sebuah peluru. Menurutnya kata–kata bisa menembus ke banyak kepala dan pikiran sedangkan peluru hanya dapat menembus ke satu kepala. Walaupun peluru bisa mematikan, kata–kata dapat menjadi inspirasi banyak orang yang membacanya. Setidaknya seseorang bisa menulis sesuatu di sosial media yang berdampak kepada orang lain seperti mengundang tawa kecil atau menginspirasinya.

Selain itu, Fuadi yakin dengan menulis dapat mengeluarkan gagasan dan dapat menjangkau ke berbagai kalangan.

Seperti halnya dengan novel pertamanya yaitu Negeri 5 Menara yang memiliki tema keislaman dapat membuat gagasannya diterima dan didengarkan oleh orang – orang nasrani. Di dalam cerita tersebut, nilai agama yang baik dapat menyentuh orang lain tanpa membuatnya resah dan mengancam suatu agama lain.

Ahmad Fuadi percaya bahwa tulisan yang baik dapat menginspirasi banyak orang. Bukan hanya kekaguman dari pembaca yang ia dapatkan, tulisan yang bak adalah tulisan yang dapat mengajak pembaca seolah – olah ada dalam cerita sehingga pesan akan tersampaikan dengan baik.

Ia mengutip dari nasihat dari Ustaznya di Gontor bahwa menulis dapat membuat awet muda. Hal itu disebabkan oleh gagasan yang tidak pernah mati karena tulisan akan terus dibaca hingga lintas zaman.

Itulah biografi singkat dari Ahmad Fuadi, penulis terkenal novel best seller. Sudah kenal sama beliau? Ingin jadi seperti beliau? Semoga kisahnya dapat menginspirasi kita ya.

 

Editor:

Mega Dinda Larasati