Biografi Gus Dur, Tokoh Agama yang Menjadi Presiden ke-4 Indonesia

Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur adalah seorang tokoh agama yang berhasil menjadi presiden ke-4 Indonesia pada tahun 1999-2001.

Gus Dur juga dikenal sebagai presiden yang cukup kontroversial, tetapi mempunyai banyak prestasi.

Di bawah ini akan dijelaskan riwayat pendidikan dan perjalanan karier Gus Dur.

Berikut ulasannya!

Biografi Gus Dur

 

Nama Lengkap Abdurrahman Wahid
Kebangsaan Indonesia
Tempat Lahir Jombang
Tanggal Lahir 7 September 1940
Profesi Utama Tokoh Agama dan Politikus
Prestasi
  • Memperoleh Ramon Magsaysay Award kategori Community Leadership pada tahun 1993
  • Dinobatkan sebagai Bapak Tionghoa oleh sejumlah tokoh Tionghoa Semarang pada tahun 2006
  • Memperoleh penghargaan dari Simon Wiesenthal Center pada tahun 2008
  • Memperoleh penghargaan dari Medals of Valor pada tahun 2008
  • Mendapatkan penghargaan dari Universitas Temple, Amerika Serikat pada tahun 2009
  • Namanya dijadikan nama kelompok studi yaitu Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study
  • Mendapatkan Lifetime Achievement Award pada tahun 2010
  • Dan masih banyak lagi

Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur adalah seorang tokoh agama dan politikus Indonesia yang lahir di Denanyar, Jombang pada tanggal 7 September 1940.

Gus Dur adalah anak pertama dari 6 bersaudara.

Ayahnya bernama Wahid Hasyim dan ibunya bernama Sholehah.

Gus Dur lahir dari keluarga yang terpandang dan cukup dihormati.

Kakek dari pihak ayah adalah K.H. Hasyim Asyari yang merupakan seorang pendiri NU atau Nahdlatul Ulama, sedangkan kakek dari pihak ibu adalah K.H. Bisri Syansuri, seorang pengajar pertama yang mengajar kelas perempuan dalam pesantren.

Ayah Gus Dur adalah seseorang yang ikut serta dalam gerakan nasionalis dan pernah menjabat sebagai menteri agama pada tahun 1949.

Tidak kalah hebat, sang ibu pun merupakan seorang putri dari pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.

Pada tahun 1944, Gus Dur pindah ke Jakarta karena ayahnya berhasil menjadi ketua Partai Majelis Syuro Indonesia atau Masyumi.

Masyumi sendiri merupakan suatu organisasi yang didirikan dengan dukungan tentara Jepang.

Pendidikan Abdurrahman Wahid

Gus Dur menempuh pendidikan sekolah dasarnya di SD KRIS dan kemudian pindah ke SD Matraman Perwari.

Pada tahun 1954, ia masuk ke SMP dan pada tahun itu pula ia harus tinggal kelas sehingga sang ibu memilih untuk memindahkannya ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta Gus Dur bersekolah dan mengaji di Pondok Pesantren Krapyak.

Setelah lulus ia melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tegalrejo, Magelang.

Di sana ia menjadi murid berprestasi dan bisa menyelesaikan pendidikannya hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja.

Pada tahun 1959, ia meneruskan pendidikan ke Pesantren Tambakberas, Jombang.

Di pesantren tersebut ia mendapatkan pekerjaan pertamanya yaitu sebagai guru.

Selain itu ia juga menjadi seorang jurnalis di beberapa majalah seperti Majalah Budaya Jaya dan Horizon.

Pada tahun 1963, ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah Studi Islam di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dari Kementerian Agama.

Setelah menyelesaikan kelas remedial bahasa Arab akhirnya ia berangkat ke Mesir dan di sana ia tidak hanya berkuliah, tetapi juga bekerja di Kedutaan Besar Indonesia.

Dikarenakan berbagai masalah yang menimpanya, menjadikan Gus Dur pada tahun 1966 harus mengulang kuliahnya.

Pendidikannya ini diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad.

Pada tahun 1970, ia lulus dan memilih untuk melanjutkan studinya di Belanda yaitu di Universitas Leiden.

Karier Abdurrahman Wahid

Pada tahun 1974, Gus Dur diminta oleh K.H. Yusuf Hasyim untuk mengisi jabatan sebagai sekretaris di Pesantren Tebu Ireng, Jombang.

Pada saat itu Gus Dur mulai mendapatkan banyak undangan dari berbagai instansi untuk menjadi narasumber mengenai diskusi keagamaan dan kepesantrenan.

Selain itu, Gus Dur juga bergabung dalam LP3ES atau Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.

Pada tahun 1979, Gus Dur pergi ke Jakarta untuk merintis Pesantren Ciganjur.

Pada tahun 1980, Gus Dur menjabat sebagai wakil khatib syuriah PBNU.

Jabatan tersebut membuat Gus Dur masuk dalam berbagai diskusi dan perdebatan mengenai masalah agama, politik, dan sosial.

Pada tahun 1983, Gus Dur pernah mendapatkan jabatan atau pekerjaan yang dianggap cukup menyimpang dari statusnya sebagai seorang tokoh agama yaitu menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Pada tahun 1984, secara aklamasi Gus Dur terpilih untuk menjabat sebagai ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo.

Pada muktamar ke-28 pada tahun 1989 di Pesantren Krapyak Yogyakarta dan muktamar di Cipasung, Jawa Barat pada tahun 1994 jabatan tersebut ditegaskan kembali.

Jabatan sebagai ketua umum PBNU akhirnya dilepaskan ketika Gus Dur berhasil menjabat sebagai presiden ke-4 Republik Indonesia.

Selama menjabat sebagai presiden, banyak pendapat Gus Dur yang dianggap kontroversial.

Pendapatnya tersebut seringkali berbeda daripada pendapat kebanyakan orang.

Saat menjadi presiden Gus Dur sudah menderita banyak penyakit mulai dari gangguan penglihatan, stroke, diabetes, dan gangguan ginjal.

Akhirnya pada tanggal 30 Desember 2009, Gus Dur menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta akibat berbagai komplikasi penyakit yang dialaminya tersebut.

 

Setelah membaca biografi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Gus Dur adalah sosok pekerja keras dan berani melawan arus dalam hal kebenaran, tentunya hal ini patut kita tiru.

Semoga biografi ini bisa menjadi inspirasi untuk kita semua agar menjadi pribadi yang lebih baik.