Sintesis: Pengertian, Fungsi, Cara Membuat, dan Contoh Lengkap

1. penulis membaca berbagai sumber rujukan secara cepat dan kritis;

2. penulis melakukan kegiatan wajib, seperti membaca kritis, menyusun ringkasan, dan menyusun ikhtisar.

2.1 Membaca Kritis

Membaca kritis merupakan suatu kegiatan membaca sumber rujukan, seperti buku, laporan hasil penelitian, atau jurnal penelitian terkait secara baik dan teliti. Dalam praktiknya, tidak jarang ditemui sumber rujukan yang memiliki bahasan atau topik yang sama. Pembaca harus dapat membandingkan, mencari kesamaan, dan perbedaan isi dari sumber rujukan tersebut serta mengkritisi sumber rujukan tersebut dari sudut kelebihan dan kekuranngannya. Hasil dari kegiatan membaca kritis yang baik adalah sebuah sintesis yang dikemukan oleh penulis pada karya ilmiah.

2.2 Menyusun Ringkasan

Ringkasan merupakan tulisan singkat dari sumber rujukan yang memuat ide pokok dan disusun secara runtut sesuai dengan urutan dalam sumber rujukan. Tulisan ini memuat hal-hal yang dianggap penting dari setiap bab dalam sumber rujukan dan terdiri atas kalimat pokok saja.

2.3 Menyusun Ikhtisar

Ikhtisar merupakan tulisan singkat yang berisi ide pokok dari beberapa bab dalam sumber rujukan yang dianggap menarik, sesuai, dan berkaitan dengan tulisan penulis. Tulisan singkat ini tidak memerhatikan urutan ide pokok yang sesuai dengan sumber rujukan. Hal-hal yang dianggap tidak relevan dengan tulisan penulis dapat diabaikan.

3. Tahap selanjutnya dalam menyusun sintesis adalah memahami dan menguasai teknik membuat kutipan dan sistem perujukannya.

4. Tahap terakhir adalah membuat dan menyusun daftar pustaka, seperti buku rujukan, jurnal penelitian terkait, dan laporan hasil penelitian yang digunakan penulis dalam karya tulis ilmiah tersebut.

5. Contoh Sintesis Lengkap

Setelah kita mengetahui seluk-beluk mengenai sintesis, mari kita perhatikan beberapa contoh sintesis yang ada di bawah ini.

“… Seiring berkembangnya aktifitas pembangunan terhadap hutan pantai di kawasan ini, akan berdampak kepada hilangnya vegetasi tumbuhan yang semula hidup di kawasan tersebut. Dahuri, Rais, Ginting, dan Sitepu, (2001) menyatakan bahwa adanya aktivitas kegiatan di daerah pariwisata atau rekreasi dapat menimbulkan masalah ekologis yang khusus dibandingkan dengan kegiatan ekonomi lain mengingat bahwa keindahan dan keaslian alam merupakan modal utama, bila suatu wilayah pesisir dibangun sebagai tempat rekreasi masyarakat, biasanya fasilitas pendukung lain juga berkembang pesat.

Faktor pemicu kerusakan lingkungan yang terjadi baik pada ekosistem laut, ekosistem pantai maupun ekosistem lain adalah kebutuhan ekonomi (economic driven) dan kegagalan kebijakan (policy failure driven). Dimana sebagian penduduk yang berada di wilayah pesisir merupakan penduduk yang sering tergolong miskin. Kemiskinan dan ketidakpastian hidup menyebabkan kacaunya pola pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Pola konsumsi yang tinggi terhadap sumber daya alam akan mengakibatkan kegagalan kebijakan pengelolaan sumber daya alam akibat kegiatan ekonomi yang dapat merusak lingkungan (Fauzi, 2005). Dengan adanya kegiatan pembangunan diikuti dengan terbatasnya jalur penghijauan di kawasan pantai akan berdampak terhadap hilangnya vegetasi tumbuhan pantai yang dapat memberikan banyak manfaat salah satunya memberikan perlindungan terhadap bahaya tsunami …” (Samin et al. 2016).