Hikayat: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Karakteristik, dan Contoh

4.1 Kemustahilan atau Pralogis

Pertama, kemustahilan atau pralogis diartikan sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal.

Banyak dari cerita hikayat mengandung hal yang tidak logis atau tidak dapat diterima nalar pendengar dan pembacanya.

Contoh dari karakteristik kemustahilan dalam hikayat adalah “bayi lahir disertai pedang dan panah” atau “seorang putri keluar dari gendang”.

4.2 Anonim

Kedua, anonim yang memiliki arti bahwa penulis dari karya sastra ini tidak diketahui jelas dan tidak dikenal.

Hal ini dikarenakan cerita hikayat yang disampaikan secara lisan dan menyebar secara turun temurun.

Namun sebagian besar hikayat muncul pada zaman peralihan sehingga menghasilkan sastra berunsur Hindu/Buddha dengan pengaruh Islam.

4.3 Kesaktian

Ketiga, kesaktian yang diartikan sebagai kekuatan dari tokoh-tokoh dalam cerita.

Contohnya pada kalimat hikayat “Raksasa memberi sarung kesaktian yang memungkinkan penggunanya berubah wujud dan juga kuda hijau yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Buraksa”.

Kalimat tersebut mengandung arti bahwa sarung kesaktian yang diberikan raksasa mengandung kekuatan untuk mengubah wujud penggunanya.

4.4 Istanasentris

Keempat, istanasentris yaitu berkisah tentang lingkungan istana.

Salah satu kekhasan dari cerita hikayat sebagai pembeda dari karya sastra lain adalah ceritanya seringkali bertema dan berlatar lingkungan kerajaan.

Hal tersebut dapat dilihat dari cerita yang seringkali berkisah tentang tokoh kerajaan seperti Pangeran, Raja, maupun Prajurit istana.

Contohnya adalah hikayat yang menceritakan tentang Pangeran Jayakarta yang bersembunyi di sebuah sumur tua.

4.5 Arkais atau Kuno

Kelima, arkais atau kuno mengandung arti bahasa yang digunakan pada masa lampau.

Seringkali bahasa dalam hikayat sudah jarang atau bahkan sudah tidak digunakan dalam berkomunikasi pada masa kini.

Contoh kosa kata lampau yang digunakan adalah hatta, bejana, syahdan, sebermula, dan masih banyak lagi.

5. Unsur-Unsur Hikayat

Seperti karya sastra lainnya, unsur-unsur hikayat terdiri dari dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur ini menjadi pendukung terciptanya hikayat. Unsur intrinsik membangun hikayat dari dalam, sedangkan unsur ekstrinsik membangun dari luar.

5.1 Unsur Intrinsik

Terdapat tujuh unsur intrinsik pembangun hikayat dari dalam, di antaranya tema, latar, alur, amanat, tokoh, sudut pandang, dan gaya.

Tema merupakan gagasan yang mendasari terciptanya sebuah cerita. Tema dalam karya sastra ini dapat berupa percintaan, keagamaan, hingga ekonomi, namun sebagian besar tema hikayat adalah keagamaan.

Latar merupakan keterangan yang menggambarkan cerita dalam hikayat. Latar yang dapat mendukung karya ini dapat berupa tempat, waktu, dan suasana. Latar tempat yang paling dominan digunakan pada karya sastra hikayat biasanya berupa istana kerajaan, sedangkan latar waktu yang paling dominan biasanya pada masa lampau.

Alur dan gaya merupakan unsur penting dalam sebuah cerita. Hal tersebut karena alur akan menentukan bagaimana bagian-bagian cerita akan membentuk sebuah jalinan cerita yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya, sedangkan gaya berkaitan dengan cara penulis menyajikan sebuah cerita.

Jika alur dalam cerita tidak tersusun dengan baik dan gaya yang digunakan tidak sesuai, maka akan membuat pendengar atau pembacanya kesulitan untuk memahami jalan cerita.

Tokoh merupakan pemeran-pemeran dalam cerita. Tokoh dalam cerita digambarkan dengan watak yang khas. Secara umum tokoh dibedakan menjadi protagonis, antagonis, dan tritagonis.

Sudut pandang merupakan bagaimana cara penulis menempatkan posisinya dalam cerita. Hal tersebut bergantung dari teknik penulis untuk menyampaikan cerita agar mudah dipahami.

Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Penulis dapat menyampaikan amanat secara jelas di akhir cerita atau tersirat di dalam cerita.