Biografi Singkat WS Rendra, Sastrawan Garang Indonesia

W.S. Rendra adalah penyair ternama dengan julukan “Burung Merak” yang memiliki nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra. Beliau merupakan buah hati dari R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah.

Ayah W.S. Rendra, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo merupakan seorang guru Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia di sebuah sekolah Katolik, Solo. Sedangkan sang Ibu, Raden Ayu Catharina Ismadillah merupakan penari serimpi di Keraton Surakarta.

WS Rendra

Profil W.S. Rendra

Nama lahir: Willibrordus Surendra Broto Rendra

Nama lain: W.S. Rendra

Tempat, tanggal lahir: Solo, 7 November 1935

Profesi: Sastrawan dan Aktor

Tahun aktif: 1952-2009

Orang tua

Ayah: Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo

Ibu: Raden Ayu Catharina Ismadillah

Pasangan:

  1. Sunarti Suwandi
  2. Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat
  3. Ken Zuraida

Anak:

  1. Theodorus Setya Nugraha
  2. Andreas Wahyu Wahyana
  3. Daniel Seta
  4. Samuel Musa
  5. Clara Sinta
  6. Yonas Salya
  7. Sarah Drupadi
  8. Naomi Srikandi
  9. Rachel Saraswati
  10. Isaias Sadewa
  11. Maryam Supraba

Masa Kecil W.S. Rendra

Rendra bersekolah dari TK pada tahun 1942 sampai SMA pada tahun 1952 di sekolah Katolik, St. Yosef, Solo. Setelah tamat SMA, Rendra memutuskan pergi ke Jakarta untuk sekolah di Akademi Luar Negeri, namun Akademi itu ternyata sudah ditutup.

Kemudian Ia kembali ke Yogjakarta dan masuk ke Universitas Gadjah Mada di Fakultas Sastra. Meskipun Rendra tidak menamatkan kuliahnya bukan berarti Rendra berhenti untuk belajar.

Tahun 1954 ia mandalami ilmu pengetahuan di bidang tari dan drama di Amerika. Ia mendapatkan beasiswa dari American Academy of Dramatical Art. Ia pun ikut serta dalam seminar kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat kesastraan yang dimiliki Rendra sudah mulai nampak ketika ia masih bersekolah SMP. Saat itu ia mulai memperlihatkan kemampuannya dengan cara menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk beberapa kegiatan di sekolahnya.

Tidak hanya pandai menulis, ternyata ia pun juga lihai ketika berada di atas panggung. Ia mementaskan dramanya dan tampil sebagai pembaca puisi.

Pada tahun 1952, setelah ia mempublikasikan puisinya di Majalah Siasat kemudian puisi-puisi karya Rendra itu lancar mengalir di aneka majalah seperti Kisah, Basis, Seni, Konfrontasi, serta Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut sampai di era tahun 60-an serta tahun 70-an.

“Kaki Palsu” merupakan drama yang dibuat pertama kali oleh WS Rendra. Drama ini dipentaskan ketika ia masih SMP. Kemudian ada “Orang-Orang di Tikungan Jalan” yang merupakan drama pertamanya yang mendapatkan penghargaan serta hadiah dari kantor wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Pada saat Rendra sudah duduk di bangku SMA penghargaan-penghargaan yang didapatkan ketika SMP itu membuatnya semakin bersemangat untuk terus berkarya.

Penghargaan yang Didapat W.S. Rendra

Karya Rendra tidak sekadar terkenal di dalam negeri saja, namun juga terkenal di luar negeri. Banyak pula karya Rendra yang diterjemahkan ke bahasa asing seperti bahasa Belanda, Jerman, Inggris, India, dan Jepang.

Dalam kegiatan seninya Rendra sudah menerima banyak penghargaan, antara lain:

PenghargaanTahun
Pemenang Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta1954
Sastra Nasional BMKN1956
Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia1970
Penghargaan dari Akademi Jakarta1975
Penghargaan Yayasan Buku Utama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan1976
Penghargaan Adam Malik1989
The S.E.A. Write Award1996
Penghargaan Achmad Bakrie Award2006

Kisah Cinta W.S. Rendra

Di usianya yang menginjak usia 24 tahun ia bertemu dengan cinta pertamanya yaitu Sunarti Suwandi yang dinikahinya pada tanggal 31 Maret 1959. Rendra mempunyai anak berjumlah 5 yaitu Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan, Clara Sinta.

Bendoro Raden Ayu Sitoremi Prabuningrat yang merupakan putri darah biru Keraton Yogyakarta yang juga merupakan salah satu murid Rendra di Bengkel Teater.

Pada suatu saat Rendra ditemani Sunarti berangkat melamar Sito untuk dijadikan istri kedua dan Sito menerimanya. Satu-satunya halangan berasal dari Ayah Sito yang tidak memberi izin anaknya yang beragama Islam dinikahi oleh pemuda yang beragama Katolik. Akhirnya Rendra memilih untuk melafalkan dua kalimat syahadat di hari pernikahannya dengan Sito pada tanggal 12 Agustus 1970 yang disaksikan oleh Ajip Rosidi dan Taufik Ismail.

Peristiwa itu mengundang berbagai komentar negatif tentang Rendra yang memilih pindah keyakinan ke agama Islam hanya untuk berpoligami. Atas hal tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya kepada Islam sudah berlangsung lama.

Dari Sitoremi Rendra mendapatkan empat orang anak yaitu Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Suatu hari Rendra mempersunting Ken Zuraida yang merupakan istri ke-3 dan memberikan Rendra 2 orang anak bernama Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tak lama sesudah kelahiran Maryam. Rendra menceraikan Sitoremi pada tahun 1979 dan Sunarti pun tak lama kemudian diceraikan pula oleh Rendra.