Biografi Sapardi Djoko Damono, Sang Pujangga yang Sederhana

Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga Indonesia kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 dan dikenal dengan sajak serta puisinya yang sederhana tapi mempunyai makna mendalam.

Ingin tahu kisah hidup sang pujangga?

Baca biografinya sampai habis ya!

Biografi Sapardi Djoko Damono

Nama LengkapSapardi Djoko Damono
KebangsaanIndonesia
Tempat LahirSurakarta
Tanggal Lahir20 Maret 1940
Profesi UtamaDosen, Kritikus Sastra, Pengamat Sastra, dan Pakar Sastra
Prestasi
  • Cultural Award Australia Tahun 1978
  • Anugerah Puisi Putra Malaysia Tahun 1983
  • Mendapat Hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta Tahun 1984
  • Mataram Award Tahun 1985
  • SEA Write Award Thailand Tahun 1986
  • Anugerah Seni Pemerintah Indonesia Tahun 1990
  • Kalyana Kretya Menristek RI Tahun 1996
  • The Achmad BakrieAward for Literature Tahun 2003
  • Khatulistiwa Award Tahun 2004
  • Penghargaan dari Akademi Jakarta Tahun 2012

Biografi Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah satu penyair atau pujangga ternama Indonesia dan dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sapardi lahir sebagai anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Saparian di Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940.

Sapardi menikah dengan seorang wanita bernama Wardiningsing dan dikaruniai dua orang anak yang bernama Rasti Sunyandani dan Rizki Henriko.

Pendidikan yang ditempuh Sapardi dimulai dari Sekolah Rakyat Kraton Kasatriyan Baluwarti Surakarta, kemudian SMP Negeri 2 Surakarta, SMA Negeri 2 Surakarta, dan menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sapardi memulai kariernya saat kelas 2 SMA yang mana karya-karyanya pertama kali dimuat oleh salah satu surat kabar di Semarang.

Setelah itu, karyanya yang berupa puisi-puisi banyak diterbitkan oleh berbagai majalah sastra, majalah budaya, dan buku-buku sastra.

Sejumlah karya Sapardi saat itu adalah Duka Mu Abadi pada tahun 1969, serta Mata Pisau dan Aquarium pada tahun 1974.

Sapardi juga pernah memperdalam ilmunya tentang humanities di University of Hawaii Amerika Serikat pada tahun 1970 sampai 1971.

Pada tahun 1989 Sapardi mendapatkan gelar doctor dalam ilmu sastra bersama dengan disertasi yang berjudul “Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur” kemudian pada tahun 1995 ia menjadi seorang guru besar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Selain menjadi dosen, Sapardi juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta tahun 1977 sampai 1979, anggota redaksi majalah Pembinaan Bahasa Indonesia Jakarta sejak tahun 1983, anggota dari Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka di Jakarta sejak tahun 1987, dan Ketua Pelaksana Pekan Apresiasi Sastra pada tahun 1988.

Dalam upaya untuk membantu kariernya sebagai seorang sastrawan, Sapardi juga seringkali datang dalam sejumlah konferensi internasional seperti Translation Workshop dan Poetry International di Rotterdam, Belanda pada tahun 1971, Seminar on Literature and Social Change in Asia di Australia National University pada tahun 1978, dan ia juga tercatat menjadi anggota penyusun Anthropology of Asean Literature, COCI sejak tahun 1982.