Biografi Pangeran Diponegoro, Pahlawan Perang Jawa

Perang Diponegoro atau Perang Jawa adalah perang besar melawan pemerintah Hindia Belanda yang berlangsung pada tahun 1825 sampai 1830.

Dalam sejarah Indonesia, perang ini menjadi perang yang banyak memakan korban yaitu sekitar 15.000 korban pasukan Hindia Belanda, 7.000 pasukan Hindia Belanda dari unsur pribumi, 200.000 orang Jawa, dan kerugian sekitar 25 juta Gulden.

Suatu perang pasti dipimpin oleh seseorang yang heroik, tidak terkecuali Perang Jawa ini.

Siapakah pemimpinnya?

Seperti apa kisah hidupnya?

Baca biografi ini sampai habis ya!

Biografi Pangeran Diponegoro

 

Nama LengkapBendara Pangeran Harya Dipanegara atau Pangeran Diponegoro
KebangsaanIndonesia
Tempat LahirNgayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta
Tanggal Lahir11 November 1785
Profesi UtamaPolitikus
Prestasi
  • Mata uang kertas Rp 100 bergambar Pangeran Diponegoro terbit pada tahun 1952
  • Mata uang kertas Rp 1.000 bergambar Pangeran Diponegoro terbit pada tahun 1975
  • UNESCO menjadikan Babad Diponegoro sebagai Memory of the World atau Warisan Ingatan Dunia pada tanggal 21 Juni 2013
  • Dan masih banyak lagi

Kehidupan Pribadi Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dan meninggal di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855 saat berusia 69 tahun.

Pangeran Diponegoro lahir dari seorang ibu bernama Raden Ayu Mangkarawati yang berasal dari Pacitan dan merupakan seorang selir (garwa ampeyan) dari Sri Sultan Hamengku Buwono III.

Saat lahir Pangeran Diponegoro diberi nama Bendara Raden Mas Mustahar yang kemudian diganti menjadi Bendara Raden Mas Antawirya dengan nama Islam Ngabdul Kamid.

Setelah sang ayah naik tahta namanya diganti lagi menjadi Bendara Pangeran Harya Dipanegara atau biasa disebut sebagai Pangeran Diponegoro.

Ketika beranjak dewasa, Pangeran Diponegoro diminta untuk menggantikan sang ayah sebagai raja, tetapi ia menolak dengan alasan posisi ibunya bukanlah istri sah atau permaisuri sehingga jabatan tersebut dirasa tidak layak untuknya.

Pangeran Diponegoro terkenal dengan pribadinya yang cerdas dan ahli dalam bidang hukum Islam Jawa.

Selain itu Pangeran Diponegoro juga dikenal sebagai seorang pria yang cukup romantis.

Ia pernah menikah sekitar 9 kali dan hasil dari pernikahannya tersebut Pangeran Diponegoro dikaruniai 12 putra dan 5 putri.

Semua putra-putrinya saat ini hidup menyebar di berbagai belahan dunia mulai dari Jawa, Sulawesi, Madura, Maluku, Serbia, Australia, Arab Saudi, Jerman, hingga Negeri Kincir Angin Belanda.

Perang Diponegoro atau Perang Jawa

Latar belakang terjadinya Perang Diponegoro atau Perang Jawa yaitu karena adanya penjajah Belanda yang memasang patok jalan melewati makam leluhur Desa Tegalrejo yang mana desa ini adalah kawasan milik Diponegoro.

Selain itu, Pangeran Diponegoro memang sudah lelah dan muak dengan tingkah laku penjajah Belanda yang bertindak seenaknya tanpa menghormati budaya setempat.