Biografi Joko Widodo, Presiden Pembangun Indonesia

3. Riwayat Pendidikan

Jokowi menghabiskan pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas di Solo. Walaupun di usia yang terbilang muda dalam bekerja, Jokowi tetap bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya. Jokowi termasuk murid yang rajin mengerjakan tugas dan sangat menyukai matematika. Kepala SDN Tirtoyoso No. 111 pernah menunjukkan ijazah presiden RI ini kepada publik. Ia mendapatkan nilai hampir sempurna yaitu 9 pada mata pelajajran IPA, Matematika, dan PPKn.

Setelah lulus dari sekolah dasar, beliau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Surakarta pada tahun 1973. Menurut gurunya, Jokowi termasuk murid yang pintar namun pendiam.

Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6 Surakarta. Tiga tahun masa SMA, beliau mendalami jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Seperti pendapat guru–guru di tingkat sebelumnya, di tingkat SMA Jokowi tergolong murid yang pintar. Ia memiliki nilai rapor yang bagus. Ia berhasil mendapatkan nilai 8 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia.

Ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Beliau menjadi mahasiswa Fakultas Kehutanan. Beliau menekuni dunia pengolahan dan pemanfaatan kayu. Pada masa tingkat akhir kuliah, Jokowi dimarahi oleh dosen pembimbing skripsinya. Hal ini disebabkan beliau tidak mengerjakan tugas akhir dengan benar dan serius.

Setelah drama bimbingan seperti mahasiswa pada umumnya, akhirnya ia mampu menyelesaikan skipsi miliknya. Ia pun sempat naik daun di kampusnya dengan skripsi tersebut yang berjudul “Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta”.

Jokowi lulus kuliah pada usia 24 tahun tepatnya tahun 1985. Setelah menyandang gelar insinyur, Jokowi menikahi Iriana di Solo pada usia 25 tahun.

4. Riwayat Pekerjaan

Setelah menikah, Jokowi bertekad untuk hidup sendiri. Ia mulai mencari pekerjaan. Mulanya, ia menjadi pegawai di salah satu BUMN PT Kertas Kraft Aceh. Di perusahaan ini ia ditempatkan di hutan pinus merkusii, Aceh Tengah.

Namun pekerjaan tersebut tidak bertahan lama, hanya sekitar 2 tahun sebab ia tidak betah. Ia kembali ke Solo menemani sang istri yang sedang mengandung anak pertamanya dalam kandungan 7 bulan. Sembari menemani sang istri, ia bekerja di bidang perkayuan milik pamannya, CV Roda Jati.

Tekad untuk hidup mandiri dalam diri Jokowi masih membara. Ia tidak bertahan lama bekerja di tempat pamannya. Jokowi membuat usaha sendiri dengan nama CV Rakabu. Nama ini diambil dari nama anak pertamanya, Gibran Rakabuming Raka. Bisnis yang digelutinya mengalami pasang surut bahkan pernah hampir bangkrut. Suatu kasus mengulik bahwa bisnisnya pernah tertipu berapa kali.

Namun karena ibunya meminjamkan uang sebesar Rp 30.000.000 pada tahun 1990. Ia mencoba bangkit kembali. Ia mulai memasang strategi dengan mengikuti pameran–pameran. Alhasil, bisnisnya mulai bangkit dan berhasil menjadi pengusaha ekspor mebel.

Micl Romaknan atau biasa disapa Bernard Chene, rekan niaga Jokowi menaruh kepercayaan kepadanya untuk meneruskan usaha niaga. Usahanya telah mencapai ke seluruh Eropa. Ketika Jokowi pulang ke tanah air pada 2005, ia sudah menjadi ahli politik.

Berawal dari sinilah karier politik Jokowi berkembang. Tak lupa, Micl Romaknan memberi panggilan “Jokowi” terhadapnya yang sampai saat ini masih popular di setiap kalangan. Banyak pelajaran yang ia dapatkan dari berkeliling Eropa, salah satunya dapat menginspirasi tata kota yang baik yang akan diterapkannya di Solo dan juga menjadi alasan ia terjun ke dunia politik.