Biografi Joko Anwar, Sutradara Keren Serba Bisa

4. Perjalanan Karir

Setelah lulus di tahun 1999, dia bekerja sebagai wartawan di The Jakarta Post, sebuah harian berbahasa inggris yang ada di Indonesia. Setelah menjadi wartawan kemudian mengisi artikel dengan tulisan kritiknya terhadap film di harian yang sama yaitu The Jakarta Post. Dia nyaman sebagai pekerjannya menjadi seorang kritikus film yang membawanya lebih dekat dengan dunia perfilman.

Dia pernah mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara kepada Nia Dinata, seorang sutradara dan produser film yang juga merupakan cucu dari pahlawan nasional Indonesia yaitu Otto Iskandardinata.

Nia mendapatkan kesan baik dengan Joko Anwar saat wawancara sehingga mengajaknya untuk turut andil dalam proyek filmnya dalam film berjudul Arisan! yang dirilis pada tahun 2003. Hasil karyanya juga menghasilkan kesuksesan.

Film tersebut mendapat beberapa penghargaan seperti Film Terbaik pada ajang penghargaan bergengsi Festival Film Indonesia di tahun 2004. Film ini  juga mendapat beberapa penghargaan luar negeri lainnya serta pujian dari berbagai kritikus film.

Film pertama yang dibuat Joko Anwar adalah Janji Joni. Film dengan genre romance comedy ini dirilis pada tahun 2005. Film ini telah ditulis olehnya sejak masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi yaitu sekitar tahun 1998. Aktor dan aktris sebagai pemeran utamanya adalah Nicholas Saputra dan Mariana Renata.

Penghargaan yang diperoleh dari film ini adalah Best Movie dalam ajang penghargaan bergengsi yaitu MTV Indonesia Movie Awards di tahun 2005. Film ini juga menjadi film box office terbesar pada saat itu.

Tidak hanya itu, Janji Joni juga mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh Garin Nugroho seorang ketua SET Foundation berupa penghargaan khusus cara bercerita inovatif. Tidak hanya berkiprah di dalam negeri tetapi film ini juga mendapatkan apresiasi di festival film internasional yaitu Sydney Fim Festival.

Film Kala adalah film yang dirilis pada tahun 2007 dan langsung disutradarai juga ditulis oleh Joko Anwar. Film ini dibintangi oleh Fachri Albar dan Shanty juga tidak lepas dari berbagai pujan kritikus film di kancah internasional sebagai film noir pertama di Indonesia.

Film noir merupakan suatu genre film atau gaya sinema yang khas dan lahir di Amerika Serikat yang erat akan pencahayaan kurang yang menimbulkan kesan klasik dan adegan kekerasan serta misterius atau kriminal.

Bahkan film ini adalah film yang dipilih oleh majalah Sight & Sound menjadi salah satu film terbaik pada tahun 2007. Tidak hanya pujian pada filmnya tetapi pujian juga dilontarkan pada sang sutradara film noir tersebut yaitu sebagai salah satu sutradara paling cerdas di Asia.

Tidak berhenti sampai disitu, Film Kala juga mampu untuk bersaing di kancah dunia perfilman internasonal. Film ini disandingkan dengan karya tokoh film terkenal dunia seperti Kiyoshi Kurosawa serta Alex Proyas.

Selain itu juga mampu menyingkirkan film-film lainnya sehingga berhasil terpilih dalam lebih dari 30 film di festival intersasional dan membawa penghargaaan salah satunya pada ajang apresiasi film yaitu New York Asian Film Festival memboyong penghargaan Jury Prize.

Film Kala juga mampu membawa kembali nuansa film karya Fritz Lang yang berjudul M bagi para penontonnya. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh The Hollywood Reporter kepada film cerdas ini.

Joko tidak selalu sendiri tetapi juga menyumbangkan ide dan kerativitasnya terhadap beberapa film. Ia juga ikut serta dalam penulisan naskah untuk sutradara lainnya dan berhasil menorehkan kesuksesan dengan memperoleh penghargaan. Salah satunya, Film Jakarta Undercover oleh sutradara Lance yang mengisahkan tentang kehidupan kelam Ibukota.

Film lainnya adalah Quickie Express yang dirilis dan tayang pertama kali pada tanggal 22 November 2007 oleh sutradara Dimas Djayadiningrat yang menceritakan tentang Tora Sudiro, Aming, serta Lukman Sardi sebagai tiga pemuda dengan profesi sebagai gigolo.

Joko juga berkolaborasi menulis naskah dengan Mouly Surya dalam film berjudul Fiksi yang tayang pertama kali pada tanggal 19 Juni 2008 dengan pemeran utama Ladya Cheryl.

Film ketiganya adalah film berjudul Pintu Terlarang. Film ini rilis di tahun 2009 yang diperankan oleh Marsha Timothy serta kembali menggandeng aktor Fachri Albar yang sebelumnya pernah bekerja sama dengannya dalam Film Kala. Film ini diadaptasi dari novel karangan Sekar Ayu Asmara.

Kesuksesan film ini menembus internasional sebagai Best of Bucheon di ajang apresiasi film Bucheon International Fantastic Filme Festival pada tahun 2009. Film ini juga terpilih untuk diputar di acara penghargaan International Film Festival Rotterdam yang ke-38 dan digelar pada tanggal 21 Januari 2009 sampai 1 Februari 2009.

Film lainnya yang ia ciptakan adalah Modus Anomali yang rilis pada tanggal 26 April 2012 dengan menggandeng Rio Dewanto dan Hannah Al Rasyid sebagai pemeran utama dalam film ini. Film ini adalah genre thriller dalam bentuk psikologi yang seluruh adegan dialognya tidak menggunakan bahasa Indonesia melainkan menggunakan Bahasa Inggris.

Film Modus Anomali memiliki judul rilis internasional yang berbeda yaitu dengan judul Ritual. Jalan ceritanya yang tidak mudah ditebak serta adegan yang dikemas sederhana tetapi bisa membuat penonton bertanya-tanya membawa film ini menarik untuk ditonton.

Di Amerika tepatnya Texas, film ini ditonton oleh lebih dari 1500 penonton. Film ini pertama kali ditayangkan pada acara South by South West (SXSW) di tahun 2012 pada pertengahan bulan Maret hingga mendapatkan hibah oleh Network of Asian Fantastic Films di Bucheon, Korea Selatan.

Tahun 2017 namanya kian melejit pesat melalui karyanya dalam film Pengabdi Setan. Film remake karyanya ini merupakan hasil terbesarnya sepanjang kehidupan profesinya dalam dunia sinematografi. Film ini juga berhasil mengisi dalam daftar film box office tidak hanya indonesia tetapi hingga Singapura, Malaysia, Hongkong, hingga mencapai Meksiko.

Sebelumnya, film yang identik dengan tokoh “ibu” ini sudah pernah rilis pada tahun 1986 yang dikemas ulang kembali dengan versi yang lebih modern dan sisi horor yang juga diperlihatkan dengan tepat. Film ini alih-allih disebut sebagai pelopor kembali munculnya film horor yang berkualitas di Indonesia. Jumlah penontonnya pun terhitung fantastis yaitu 4,2 juta orang di bioskop per 7 November 2017 dan mengantarnya pada film terlaris pada saat itu.

Tidak hanya sebagai produser film, sutradara, ataupun penulis naskah, Joko Anwar juga pernah berperan sebagai aktor dalam beberapa film. Babi Buta yang Ingin Terbang di tahun 2008 sebagai film pertamanya dalam dunia akting, Madame X pada tahun 2010 yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi, Demi ucok di tahun 2013 bergenre drama comedy bersama Geraldine Sianturi. Film lainnya yaitu Film 3Sum di tahun 2013 merupakan film antologi drama Indonesia dengan 3 segmen film yaitu insomnight, rawa kucing, serta impromtu. Film lainnya yaitu Sebelum Pagi Terulang Kembali pada tahun 2014, Melancholy is a Movement di tahun 2015, serta Ave Maryam di tahun 2018 yang menceritakan kisah cinta terlarang antara biarawan dan biarawati.

Karirnya juga menapaki dunia internasional. Kemampuannya untuk menciptakan karya film dalam jenis genre yang beragam membawanya dipercayai untuk melakukan kerja sama dengan HBO Asia. Ia bekerjasama dengan HBO Asia dalam serial televisi dengan judul Halfworlds di tahun 2015 juga film serial folklore dengan judul A Mother’s Love pada tahun 2018.