Biografi Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart

Dunia hiburan Indonesia kembali diselimuti kabar duka.

Didik Prasetyo atau Didi Kempot yang merupakan seorang penyanyi dan pencipta lagu campur sari asal Surakarta tutup usia pada tanggal 5 Mei 2020 di RS Kasih Ibu Surakarta.

Didi Kempot meninggal saat berada di puncak karier yang mana belakangan ini beliau seringkali tampil di halaman pemberitaan dan lagunya pun kian digemari oleh masyarakat.

Ternyata di balik kesuksesannya, Didi Kempot juga pernah menjadi pengamen jalanan.

Ingin tahu seperti apa kisah hidupnya?

Ada baiknya untuk baca ulasan biografi-nya di bawah ini!

Biografi Didi Kempot The God Father of Broken Heart

Nama Lengkap Didik Prasetyo atau Didi Kempot
Kebangsaan Indonesia
Tempat Lahir Surakarta
Tanggal Lahir/ Meninggal 31 Desember 1966/ 5 Mei 2020
Profesi Utama Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Produser
Prestasi
  • Artis Solo Pria Terbaik Anugerah Musik Indonesia Tahun 2001
  • Penyanyi Terbaik Anugerah Musik Indonesia Tahun 2001
  • Album Terbaik Anugerah Musik Indonesia Tahun 2002
  • Lagu Dangdut Etnik Terbaik Anugerah Dangdut TPI Tahun 2002
  • Dan masih banyak lagi

Profil Didi Kempot

Didik Prasetyo atau Didi Kempot merupakan seorang penyanyi dan pencipta lagu campur sari yang lahir di Surakarta, 31 Desember 1966 dan meninggal saat berusia 53 tahun di Surakarta, 5 Mei 2020.

Didi Kempot lahir dalam keluarga yang berkecimpung di bidang seni tradisional.

Ayahnya adalah seorang seniman tradisional terkenal yaitu Ranto Edi Gudal atau lebih dikenal sebagai Mbak Ranto, ibunya Umiyati Siti Nurjanah adalah seorang penyanyi tradisional di Ngawi, dan kakaknya adalah seorang pelawak senior Srimulat yaitu Mamiek Prakoso.

Sebagian besar lagu ciptaan Didi Kempot bertemakan kehilangan dan patah hati.

Oleh karena itu Didi Kempot mendapatkan julukan sebagai The Godfather of Broken Heart atau Bapak Loro Ati Nasional atau dalam bahasa Indonesia berarti Bapak Patah Hati Nasional.

Perjalanan Karier Didi Kempot

Didi Kempot merintis kariernya sebagai musisi jalanan pada tahun 1984 sampai 1986 di Surakarta, kemudian merantau ke Jakarta pada tahun 1987 sampai 1989 bersama Kelompok Pengamen Trotoar atau disingkat menjadi Kempot dan menjadi nama panggungnya sampai saat ini.

Pada tahun 1989 Didi Kempot berhasil meluncurkan album pertamanya dengan lagu andalan berjudul Cidro.

Lagu ini terinspirasi dari kisah asmara Didi Kempot sendiri yang mana menceritakan tentang suatu hubungan yang tidak disetujui oleh orang tua dari pihak wanita.

Sejak saat itu Didi Kempot seringkali menulis lagu yang bertema patah hati.

Pada tahun 1993 dengan lagu Cidro Didi Kempot tampil di Suriname dan juga Eropa.

Pada tahun 1996, Didi Kempot tampil di Rotterdam, Belanda dengan lagu berjudul Layang Kangen dan kemudian pulang ke Indonesia untuk kembali menjadi seorang musisi.

Pulangnya Didi Kempot ke Indonesia menjadikan kariernya semakin menanjak.

Hal tersebut bisa dilihat dari munculnya lagu-lagu baru pada awal tahun 2000-an.

Pada tahun 2013 Didi Kempot meluncurkan lagu yang berjudul Kalung Emas, dan Suket Teki pada tahun 2016.

Lagu ini mendapatkan banyak apresiasi yang sangat tinggi dari masyarakat Indonesia.

Tanggal 11 April 2020, Didi Kempot pun mengadakan sebuah konser live streaming dan berhasil mengumpulkan donasi sebanyak Rp 7,6 miliar guna memerangi Covid-19.

Tanggal 1 Mei 2020, lagu berjudul Ojo Mudik yang berarti Jangan Mudik Didi Kempot rilis untuk didengarkan para penggemarnya agar tidak mudik saat musim liburan Idul Fitri guna mencegah penyebaran virus Corona.

Pada saat ini, Didi Kempot adalah salah satu idola kaum milenial karena lagu-lagunya yang menceritakan tentang patah hati sangat mengena di hati ditambah lagi kerendahan hati dari sang maestro yang juga seringkali memberikan semangat untuk para penggemarnya atau para Sobat Ambyar agar tidak berhenti berkarya.

 

Selamat jalan The Godfather of Broken Heart, karyamu akan selalu dikenang.

Terima kasih telah menghiasi dunia hiburan Indonesia.

Semoga amal dan ibadahnya diterima dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.