Biografi Darwis Triadi, Sang Fotografer Idealis

4. Karier Fotografer

Tahun 1980 merupakan tahun di mana ia memulai kariernya sebagai fotografer. Ia mendapatkan pekerjaan untuk memotret Hotel Borobudur dengan mendapatkan upah sebesar Rp 50.000. Memang upah yang tidak seberapa, namun ia tetap melaksanakan pekerjaan tersebut. Bahkan pada saat itu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut ia masih belum memiliki kamera sendiri.

Dua tahun merupakan waktu yang ia butuhkan untuk siap berkarier di dunia fotografi profesional.

Pada tahun 1981, ia memamerkan hasil karyanya di Erasmus Huis Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta yang berupa model dan peragawati. Banyak pengunjung yang dibuat terkesan dengan hasil karyanya tersebut, namun tidak sedikit pula yang menganggap dia sebagai fotografer yang melenceng.

Ia sempat menjadi ketua II JPS (Jakarta Photography of Indonesia) pada tahun 1989. Selain itu ia pernah menjabat sebagai ketua APPI (Association of Professional Photography of Indonesia) di tahun yang sama. Tahun 1990, ia berpartisipasi dalam ajang internasional yaitu majalah tahunan Hasselblad dan Photo Kina International di Jerman.

Kiprahnya di bidang fotografi pun semakin diakui ketika ia berhasil melakukan pemotretan untuk majalah VOGUE edisi Juni 1991 pada artikel spesial Indonesia, dilanjutkan dengan eksklusif fotografi untuk Index Art Directory for World Photographs pada tahun 1990-1991.

Bahkan ia sempat membuat karya pada Workshop for Commercial Photographs yang diadakan di Stuttgart, Jerman pada Juli 1991. Darwis Triadi dipercaya untuk mengisi kalender Broncolor oleh Bron Electronic AG dari Swiss di tahun 1997.

Darwis memiliki mimpi untuk mendirikan sekolah fotografi karena ia menyukai berbagi ilmu yang sudah ia dapatkan selama ini. Akhirnya, mimpi tersebut terwujud di tahun 2002. Ia berhasil mendirikan sekolah yang  diberi nama Darwis Triadi School of Photography beralamat di Jalan Pattimura No. 2, Jakarta.

Sekolah fotografi yang didirikan olehnya tersebut berkembang pesat. Akhirnya ia mendirikan cabang di Surabaya dan Bandung pada tahun 2008 dan 2009. Setelah sesi belajar di sekolahnya berakhir, ia selalu menyempatkan hadir untuk menyapa setiap muridnya baik hanya untuk sekedar menyapa ataupun melakukan sesi tanya jawab langsung.

Selama 40 tahun ia telah berkecimpung di dunia fotografi karena itulah kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia memperhatikan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi hasil jepretannya, baik mempengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung. Hal tidak langsung yang ia perhatikan adalah interaksi antara dia dengan objek foto yang dapat menimbulkan rasa.

Ia mengungkapkan hal lain yang perlu diperhatikan fotografer dalam memotret adalah teknik pencahayaan, karena hal tersebut sangat mempengaruhi hasil foto sehingga fotografer harus benar-benar menguasai tentang teknik pencahayaan yang akan digunakan.

Di dalam Darwis Triadi School of Photography pun tidak hanya mengajarkan teknik-teknik fotografi saja, namun juga diajarkan mengendalikan hati, pikiran, lebih berfikir secara global serta tidak rasisme.