Biografi Cut Nyak Dhien, Wanita Tangguh dari Serambi Mekkah

Cut Nyak Dhien adalah salah satu pahlawan wanita yang tangguh dan berasal dari Aceh.

Ia dikenal sebagai pahlawan yang gigih dan tidak kenal lelah untuk berjuang mempertahankan kebebasan masyarakat Indonesia dari penjajahan bangsa Belanda.

Di bawah ini adalah informasi mengenai biografi atau kisah hidup Cut Nyak Dhien.

Jika ingin tahu, yuk simak selengkapnya!

Biografi Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien

Nama Lengkap Cut Nyak Dhien
Kebangsaan Indonesia
Tempat Lahir Lampadang, Kesultanan Aceh
Tahun Lahir 1848
Profesi Utama Pahlawan Nasional

Cut Nyak Dhien lahir dari keluarga bangsawan yang paham agama di Aceh Besar wilayah VI Mukim.

Ayah Cut Nyak Dhien bernama Teuku Nanta Seutia yang merupakan seorang uleebalang (kepala pemerintah) VI Mukim dan anak dari Datuk Makhudum Sati.

Saat kecil, Cut Nyak Dhien dikenal sebagai anak yang cantik dan bisa mendapatkan pendidikan baik.

Ia mendapatkan pendidikan di bidang agama dari orang tua dan guru ngaji serta pendidikan rumah tangga seperti memasak dan melayani suami.

Oleh karena itu, ada banyak pria naksir dengan Cut Nyak Dhien dan berupaya untuk melamarnya.

Kemudian saat berumur 12 tahun, Cut Nyak Dhien dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga oleh orang tuanya.

Suaminya ini adalah anak dari uleebalang Lamnga XIII.

Lihat Daftar Isi

Perjuangan

Tahun 1873, Belanda menduduki daerah VI Mukim dan pada tahun 1874 mereka berhasil merebut Keraton Sultan.

Oleh karena itu, Cut Nyak Dhien dan bayinya harus mengungsi bersama dengan rombngan lain sementara suaminya harus melanjutkan bertarung untuk merenggut kembali daerahnya.

Namun pada tahun 1878, suami Cut Nyak Dhien tewas dan itu menjadikannya sangat marah hingga berjanji akan menundukkan Belanda.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien yang awalnya menolak akhirnya menikah kembali dengan Teuku Umar karena diperbolehkan ikut dalam medan perang.

Bersama dengan Teuku Umar dan pejuang lainnya, Cut Nyak Dhien ikut serta dalam melakukan serangan kepada Belanda.

Teuku Umar menggunakan taktik yang terlihat menyerahkan diri kepada Belanda padahal itu tidak benar-benar terjadi dan itu dilakukan bersama dengan 250 orang lainnya.

Saat taktik yang ia lakukan berjalan sesuai dengan rencana, akhirnya Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien bertolak bersama amunisi, peralatan berat, dan senjata milik Belanda.

Hal ini menjadikan Belanda marah besar sehingga melancarkan operasi untuk menangkap Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien.

Pada tahun 1899, Teuku Umar tewas dan perlawanan kepada Belanda di daerah pedalaman Meulaboh dipimpin oleh Cut Nyak Dhien.

Pasukan ini terus bertempur melawan Belanda, tetapi harus mengalami kehancuran pada tahun 1901 karena kondisi Cut Nyak Dhien yang sudah sakit-sakitan dan anggotanya yang semakin berkurang.

Akhirnya, salah satu pasukan Cut Nyak Dhien yaitu Pang Laot memberi tahu lokasi pangkalannya kepada Belanda karena kasihan atau iba dan itu berakibat adanya serangan.

Mereka pun terkejut dan harus bertahan mati-matian hingga Cut Nyak Dhien berhasil ditangkap Belanda.

Akhir Hayat

Cut Nyak Dhien ditawan ke Banda Aceh untuk dirawat.

Saat penyakitnya sembuh satu per satu akhirnya Cut Nyak Dhien dilempar ke Sumedang, Jawa Barat karena Belanda takut jika nanti akan muncul lagi perlawanan dan harus berkaitan dengan pejuang yang masih belum tunduk.

Cut Nyak Dhien ditahan bersama dengan seorang ulama yaitu Ilyas yang mengetahui bahwa Cut Nyak Dhien mempunyai keahlian dalam bidang agama Islam.

Oleh karena itu, Cut Nyak Dhien diberi julukan sebagai Ibu Perbu.

Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien dinyatakan meninggal karena semakin menua.

 

Dengan membaca biografi ini, sudah terbukti bukan bahwa stereotipe “wanita itu lemah” adalah hal yang sepenuhnya tidak benar?

Terima kasih sudah membaca.